Ahlak yang Pertama & Utama.

Assalamualaikum Wr. Wb,

Pribadi muslim sangat menjunjung nilai–nilai akhlaq, .. mereka menyadari bahwa agama itu adalah akhlak yang baik. Kita pun menyadari bahwa runtuhnya agama karena akhlak para pengikutnya, ... dan bisa jadi rusaknya citra Islam karena para pemeluknya berakhlak buruk – Al Islam mahjubun bil Muslimin ..

Saat ini, ... nurani kita menjerit dan merintih karena hampir pada umumnya,.. dipelosok kehidupan masyarakat muslim tidak ditemukan mutiara akhlak yang berbinar menerangi peradaban kehidupan. Umat Islam tenggelam dalam kecanduan ritual pada mazhab-mazhab fiqih yang seringkali diakhiri dengan perbedaan tafsir dan pendapat.

Orientasi yang berpusatkan pada Fiqih seringkali membuat kita menjadi orang–orang asing ditengah sesama saudaranya sendiri. Sementara akhlak yang bersifat universal dikesampingkan. Padahal, .. hanya dengan akhlak yang mulia sajalah setiap hati muslim dapat berpaut satu sama lain. Bukankah Rasulullah saw diutus untuk menyempurnakan akhlak, dan .. Bukankah pada diri baginda Rosul terdapat ketauladanan akhlak ?.

Sebagaimana firman-Nya : “Sesunguhnya engkau (Muhammad) benar–benar memiliki akhlaq yang agung .” (QS, 68:4 ).

Salah satu sacred mission Rasulullah saw, : "innama bu’istu li utaamima makarimal akhlaq – sesungguhnya aku diutus untuk kesempurnaan akhlaq !".

Betapa Rasulullah telah memberikan ketauladanan akhlakul karimah disamping tentu saja hal–hal yang bersifat ritual. Bahkan seorang ahli ibadah tidak ada nilainya dihadapan Ilahi,.. "ketika akhlaknya buruk", .. sebagaimana diriwayatkan tentang orang yang memuji–muji seorang yang ahli ibadah dan berakata : "Tentulah si fulanah itu ahli surga , karena dia senantiasa puasa di siang hari dan sholat di malam hari (inna fulanah tashumun nahar wa taqumul laila", ... Kemudian Rasulullah saw menjawab : "Tidak.. !, Dia ahli neraka ..! Dia suka mengganggu tetangga dengan ucapannya – Hiya fin naar tu’dzi jironaha bilisaaniha."... Seluruh ibadahnya hancur, karena dia punya akhlak yang buruk, suka merusak orang dengan lidahnya". Si Fulanah yang ahli ibadah tersebut, menjadi penghuni neraka karena ibadahnya tidak menjadi motivasi untuk berakhlak yang baik.

Ternyata ketekunan ritual tidak serta merta membuat seorang masuk sorga, bahkan nilai ibadah ritualnya hancur bagaikan api yang membakar kayu bakar, tidak punya arti, nihil!.

Bila akhlak ahli ibadah itu buruk, ... Apalah artinya nilai ritual bila tidak meng-aktualisasikan nilai akhlaknya dalam pegaulan di tengah masyarakat, .. Apalah artinya kesalehan yang ditampakkan dalam bentuk ibadah ritual bila tidak menjadi motivasi aktual untuk menunjukkan cahaya akhlaknya ditengah–tengah pergaulan. Menara masjid meraung–raung menyampaikan dzikir, shalawat, serta puji–pujian lewat pengeras suara yang bising.

Ustadz dan ustadzah di Majelis ta'lim suaranya melengking disiang hari bolong menembus kantor–kantor yang sedang rapat untuk memajukan usahanya. Para pemuda yang mukhlis itu tengah berdiri ditengah sengatan matahari seraya mengulurkan kotak sodaqoh untuk pembangunan rumah ibadah. Masjid–masjid kian banyak didirikan dan dipercantik dengan segala kemewahannya, tetapi hati jama’ahnya kosong. Kita beragama seakan hanya berakhir pada nilai ritual. Kita merasa telah membebaskan dosa-dosa orang yang meninggal dengan membayar para pembaca kitab untuk tadarus membaca surat Yasin selama 40 hari dikuburannya. Datanglah ke pemakaman (saya menyaksikannya di pemakaman Jeruk Purut dan Tanah Kusir),.. disana Anda akan berjumpa dengan orang–orang yang menawarkan jasa untuk berdoa dan membaca ayat-ayat Quran.

Sungguh,... nilai ibadah kita hancur karena kita tak mampu membuktikannya dalam bentuk rahmatan lil alamin, ... Nilai ibadah kita nihil karena tidak menjadi motivasi untuk menampilkan sosok seorang manusia yang Profesional, Jujur, dan Bertanggung-jawab.

Saat ini, .. umat Islam disibukkan dengan berbagai pertikaian hanya karena soal–soal perbedaan faham dalam tata cara ritual. Para tokoh-tokoh agama yang mumpuni asyik memperdebatkan soal–soal yang berkaitan dengan fiqih, seperti ... apakah dalam shalat bacaan basmalah harus dikeraskan (jahar) atau dipelankan (syirr)?,... apakah shalat subuh harus berqunut atau tidak?, .. Apakah Adzan Juma’at itu harus dua kali atau satu kali?, .. Apakah jari telunjuk waktu duduk tasyahud harus digerakan atau digerak-gerakan?, .. Apakah mengecat rambut itu wajib atau tidak?, .. Apakah orang yang mencukur jenggot itu berdosa atau tidak?, .. Apakah orang yang celananya tidak diatas mata kaki bukan pengikut Rosul?, .. dan segudang perbedaan faham dalam soal fiqih ritual membuat diantara kita seakan terpisah oleh garis–garis mazhab. Masing–masing kita menjadi musuh tersembunyi karena perbedaan tafsir fiqih, .. Apakah kita telah mempertuhankan mazhab dan tidak memuliakan akhlak?, ironisnya, ... Ukuran kesalehan bahkan keimanan seseorang di ukur mutlak dari sudut pandang nilai fiqih ritual semata.

Padahal begitu sangat nyata dan jelas pelajaran yang dicontohkan Rasulullah saw, bahwa seorang ahli ibadah itu akhirnya menjadi penghuni neraka, karena ibadahnya tidak melahirkan atau mempercontohkan ketauladan akhlak. Dan Al-Quran mengancam orang-orang yang mendirikan sholat masuk neraka weil karena mentelantarkan misi kemanusiaan.

Beberapa hadist tentang akhlak seringkali tenggelam oleh hingar-bingar masalah fiqih, .. Abu Hurairoh meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda : "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mukmin yang paling baik akhlaknya". .. Rasululah saw ditanya, "Perkara apakah yang paling banyak memasukkan manusia ke surga, wahai Rasulullah?". .. Beliau menjawab : "Takwa kepada Allah dan akhlak yang paling baik (taqwallah wa khusnul khuluqi)". Dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda : "Akhlak yang buruk itu merusak amal kebajikan seperti cuka merusak madu, seperti api yang membakar kayu bakar". (HR.Ibnu Majah).

Bahkan, Rasulullah saw, .. memuji seorang yang memiliki keluhuran budi pekerti, sebagaimana diriwayatkan oleh Tabrani dari Anas r.a yang menyampaikan bahwa Rasulullah saw bersabda : "Sesungguhnya seorang hamba akan mencapai kedudukan dan derajat yang paling tinggi di akhirat karena akhlaknya yang baik, walau ia lemah dalam ibadat". ( HR.Tabrani, Al-Targhib 3 : 404 ).

Contoh keluhuran akhlak Rasululullah saw, .. beliau membebaskan seorang wanita, putri Hatim Ath-Tho’i yang menjadi tawanan. Hal itu beliau lakukan sebagai balasan kepada ayahnya yang baik budi-pekertiya. Ketika wanita itu datang kepada Nabi saw., ia berkata : "Wahai Muhammad janganlah sebagian orag Arab bergembira karena aku tertawan, .. Aku adalah putri pemimpin kaumku, ... Ayahku adalah pembela rakyatnya,.. suka membebaskan tawanan, .. suka memberi makanan kepada orang–orang lapar, .. dan tidak pernah menolak orang yang membutuhkan pertolongan. Aku adalah putri Hatim Ath-Tho’i", ..

Rasulullah saw, kemudian menjawab : "Apa yang kamu sampaikan itu adalah sifat-sifat orang mukmin sesungguhnya, .. Sekiranya ayahmu seorang muslim, aku akan memohonkan rahmat baginya. Bebaskanlah dia !, .. Karena ayahnya sangat menyukai akhlak yang baik, .. dan sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyukai akhlak yang baik". Berdirilah Abu Burdah bin Nayyar, seraya berkata : "Wahai Rasulullah apakah Allah menyukai akhlak yang baik ?". Rasulullah saw menjawab : "Demi Dzat yang menguasai diriku, tidak ada seorang pun yang masuk surga, kecuali orang yang baik akhlaknya".

Suatu saat ada seorang lelaki berdiri dihadapan Rasulullah saw kemudian bertanya :
"Wahai Rosulullah,apakah agama itu ?", .. Rasulullah menjawab : "Agama itu akhlak yang baik", .. Lelaki itu kemudian menghadap lagi dari sebelah kanan, dan bertanya lagi : "Wahai Rasulullah, apakah agama itu", .. Rasulullah saw menjawab : "Agama itu akhlak yang baik", ... Lelaki itu kemudian menghadap lagi dari sebelah kiri Rasulullah, dan bertanya lagi : "Wahai Rasulullah, apakah agama itu ?", .. Beliau menjawab : "Agama itu akhlak yang baik", .. Kemudian lelaki, bertanya lagi dari arah belakang Rasulullah : "Wahai Rasulullah, apakah agama itu ?". Rasulullah saw menoleh kepada orang tersebut dan bersabda: "Apakah kamu belum mengerti?, Agama itu akhlak yang baik, agama itu ialah engkau tidak boleh marah".

Dari uraian serta riwayat yang kita uraikan diatas, .. tampaklah bahwa Islam sangat identik dengan ahlak yang mencakup sikap, prilaku dalam tatanan pergaulan dengan sesama manusia dan alam lingkungannya. Bahkan ada riwayat seorang wanita yang ahli ibadah akhirnya menjadi ahli neraka hanya dikarenakan wanita itu mengurung seekor kucing sehingga mati,dan dia dianggap telah berbuat dzolim dan berakhlak buruk. Sebaliknya diriwayatkan ada seorang wanita pelacur yang penuh dengan dosa, akhirnya menjadi ahli sorga karena dia menolong seekor anjing yang kehausan. Dia rela mati untuk tidak minum, dan memberikan air tersebut kepada seekor anjing !.

Akhlak adalah belas kasih yang sangat mendalam. Kasih sayangnya kepada Allah terpantul dari cara mereka bersikap penuh kasih kepada semua mahluk yang ada di bumi. Jangankan kepada sesama manusia, berbelas kasih kepada seekor anjing sekalipun akan menghantarkannya kesurga. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bin Ash r.a, sesungguhnya Rasululullah saw bersabda : "Orang yang berbelas-kasih pasti dikasihi Yang Maha Pengasih. Berbelas kasihlah kepada penghuni di bumi, niscaya para penghuni langit akan berbelas kasih kepadamu sekalian". (HR.Abu Daud dan Tirmidzi).

Semangat berjama’ah yang berintikan nilai persaudaraan, tidak terikat oleh perbedaan fiqih dan mazhab. Semangat pesaudaraan dan maksud dari tulisan ini, sekedar ingin mengajak diri saya dan Anda untuk secara simultan dan menjadikan amal–amal jama’ah untuk membuktikan keluhuran akhlaq dari setiap pribadi muslim dalam hubungannya dengan manusia dan alam lingkungannya.

Akhlak atau karakter bahkan kepribadian ( personality ) setiap muslim mencakup berbagai dimensi yang erat kaitannya dengan kemanfaatan hidup bagi orang lain. Sikap kedermawanan, sikap yang santun, menghargai nilai–nilai kemanusiaan, disiplin dan menghargai waktu merupakan dimensi akhlak yang justru harus kita prioritaskan melampaui perbedaan kita dalam hal–hal yang bersifat ibadah ritual yang seringkali menjadi jurang pemisah karena fanatisme mazhabiyah semata.

Berikut ini ada sebuah riwayat,... dimana doa dikabulkan Allah karena amal saleh mereka, karena akhlaq serta kerinduan mereka menatap Wajah Allah, sbb :


Tatkala tiga orang pemuda sedang mengadakan perjalanan, tiba–tiba mereka diguyur hujan lebat, kemudian mereka berteduh ke sebuah gua di gunung. Ketika mereka telah berada di dalam gua, runtuhlah bebatuan sehingga menutup mulut gua. Sebagian berkata kepada sebagian yang lain, "Perhatikanlah amal–amal salih yang pernah kalian kerjakan, lalu berdoalah kepada Allah dengan amal–amal saleh itu", kemudian mulailah mereka berdoa :

Yang pertama di antara mereka berkata : "Yaa Allah, Engkau tahu bahwa aku mempunyai dua orang tua yang sudah tua renta, seorang istri dan dua anak. Aku senantiasa mengurus mereka. Setiap kali sehabis pergi, aku memerah susu untuk mereka, dan yang pertama kali kuberi minum adalah kedua orang tuaku sebelum anak–anakku. Suatu ketika aku tersesat ketempat yang jauh ketika sedang mencari kayu bakar. Sehingga aku pulang larut malam dan kudapatkan mereka berdua sudah tertidur. Aku memerah susu seperti biasanya, lalu aku hanya berdiri di dekat kepala mereka, tidak berani membangunkan mereka, dan tidak ingin mendahulukan anak–anakku sebelum mereka berdua minum. Sementara anak–anaku menangis kelaparan sambil merangkul kedua kakiku. Aku tetap seperti itu sehingga fajar menyingsing. Jika Engkau tahu aku berbuat seperti itu karena mengharapkan Wajah-Mu, maka bukakanlah sedikit celah agar kami bisa melihat langit". Maka Allah membuka sedikit celah kepada mereka.

Orang kedua berkata : "Yaa Allah ,aku mempunyai seorang keponakan, dan aku jatuh cinta kepadanya, seperti lazimnya cinta yang menggelora dari seorang laki–laki terhadap wanita. Lalu aku memintanya agar mau kugauli, namun dia menolak. Aku memberinya seratus dinar, lalu kurayu dia, dan bahkan kuberi lagi seratus dinar, lalu kutemuui dia. Tatkala aku sudah siap–siap untuk menggaulinya, dia berkata : "Wahai hamba Allah, bertakwalah kepada Allah janganlah engkau merusak cincin yang bukan haknya". Dengan perasaan takut dan bergetar hatiku, kutinggalkan dia. Jika Engkau tahu bahwa aku berbuat yang demikian karena mengaharap wajah-Mu, maka bukakanlah kepada kami batu ini". Maka Allah membukakan sedikit celah kepada mereka.

Orang ketiga berkata : "Yaa Allah , sesungguhnya aku mempunyai seorang buruh yang kupekerjakan untuk menangani timbangan beras. Takala sudah menyelesaikan tugasnya, dia pergi meninggalkanku. Maka upahnya itu kutanamkan dan kukembangkan sehingga bisa membeli beberapa ekor sapi dan penggembalanya. Setelah sekian lama, dia datang lagi kepadaku, seraya bekata : 'Wahai tuan, bertakwalah kepada Allah dan berikanlah upahku yang dulu'. Aku berkata : 'Periksalah sapi–sapi dan penggembalanya. Semua itu adalah milikmu'. Dia berkata : 'Jangan engkau memperolok–olokku', Aku berkata : 'Sapi–sapi yang memenuhi gunung itu dan para pengembalanya adalah milikmu, aku tidak memperolok–olokmu ambilah !'. Maka dia mengambilnya dan pergi. Jika Engkau tahu bahwa aku berbuat itu karena mengharap Wajah-Mu, maka bukakanlah pintu. Maka Allah membukakan celah bagi mereka. Dan mereka pun keluar dari gua dan melanjutkan perjalanan (Ditarjih dari riwayat Al Bukhari dan Muslim)

Dari kisah diatas, betapa Allah telah mengabulkan doa–doa mereka bertiga, karena mereka menyebutkan amal–amal saleh yang mereka perbuat. Seorang dikabulkan doanya karena dia memiliki ahlak yang memuliakan orang tua mereka. Kedua oang tuanya yang telah renta dia santuni dengan penuh takjim dan kasih sayang mendahulukan anak- anaknya sendiri. Yang Kedua, dikabulkann doanya karena mampu keluar dari godaan syahwat yang sangat kritis. Dan Yang ketiga adalah seorang pengusaha yang jujur dan bertanggung jawab. Semuanya itu adalah akhlak !

Akhlak menghargai perbedaan.

Setiap pribadi muslim yang merindukan persauadaran ( ukhuwah wal jamaah ) adalah tipikal manusia yang sangat toleran terhadap pebedaan berpikir maupun perbedaan dalam ritual. Perbedaan tidak menyebabkan sempit hati, bahwa dari pebedaan itu akan menambah pemerkayaan (enrichment) wawasan pengetahuan dan daya kreatifitas. Kita bukanlah pemilik kebenaran mutlak, karena hanya Allah yang paling pantas mengklaim kebenaran (al haqqu min robbika). Kita hanya punya asumsi–asumsi tentang kebenaran melalui tafsir dan pendapat para ulama yang tentu saja setiap kepala mempunyai daya pikir yang berbeda sesuai dengan pengetahuan dan pengalamannya masing–masing. Kita tidak bisa memutlakan urusan ibadah. Merasa bahwa keyakinan kita dalam melaksanakan ibadah adalah yang paling benar sedangkan yang lain adalah salah dan bid’ah !

Menarik untuk kita renungi bersama adalah ungkapan dari Ibnu Hajar Al Haytami yang berkata : "Madzhabunaa showaab yahtamilu al khotho. Wa madzhabu ghoyirinaa khotho yahtamilu al showaab – Mazhab kami benar, tetapi bisa jadi mengandung kesalahan. Mazhab selain kami salah, tetapi bisa jadi mengandung kebenaran".

Suatu ketika Idham Khalid ketua Nahdatul Ulama naik haji satu kapal dengan Buya Hamka seorang tokoh Muhammadiyah. Setiap subuh, diadakan shalat berjemaah dengan Imam shalat bergantian. Ketika Idham Khalid menjadi imam dia berqunut, dan buya Hamka yang menjadi makmum ikut berqunut. Dalam hari yang lain giliran buya Hamka yang menjadi Imam, beliau tidak berqunut dan Idham Khalid mengikutiya tanpa mengulangi shalatnya. Perbedaan dalam ibadah tidak mengalahkan persaudaraan Islamiyah.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., ia berkata: Rasulullah saw, bersabda pada hari perang Ahzab: "Jangan sekali-kali seseorang melakukan shalat asar kecuali di (perkampungan) Bani Quraizhah." Sebagian mereka mendapatkan waktu ashar ditengah perjalanan. Lalu mereka berkata, "Kami tidak akan shalat ashar kecuali setelah kami datang di Bani Quraizhah". Dan sebagian lagi berkata, "Kami akan melakukan shalat ashar, karena bukan itu yang dimaksudkan Rasulullah saw. terhadap kita. "Kemudian peristiwa itu dilaporkan kepada Rasulullah saw., maka beliau tidak mencela salah satunya."

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak mau menyemir rambut, karena itu berbedalah kamu dengan mereka." (Riwayat Bukhari) - Walaupun ini jelas perintah Rosulullah tetapi tidak serta merta di ikuti oleh para sahabat, Abubakar dan Umar melakukannya. Sedang yang lain tidak melakukannya, seperti Ali, Ubai bin Kaab dan Anas.

Akhlak menghargai kemanusiaan.

Nilai – nilai ibadah seharusnya menjadi motivasi yang kuat untuk berbuat kebaikan bagi kehiduapan pergulannya di tengah–tengah masyarakat . Mereka sangat peduli dengan jeritan dan rintihan kaum tertindas dan fakir miskin. Mereka rela memotong rejekinya untuk dikumpulkan sebagai sebuah modal yang mampu dikelola untuk meningkatkan martabat sesama saudaranya yang terpuruk dalam kemiskinan. Mereka bergetar setiap membaca surat Al Maun, karena takut disebut pendusta agama, hanya karena menterlantarkan orang miskin dan anak yatim. Bahkan bergetar jiwa mereka begitu mendengarkan firman Allah :

“Kenapakah engkau menjadi penghuni neraka Saqar ?. Mereka menjawab: Sungguh kami dahulu tidak termasuk yang mendirikan shalat, dan tidak pernah memberi makan orang miskin“. (QS,74: 40-41)

Hubungan ritual telah menjadi dasar untuk mempraktekkan nilai–nilai actual. Habluminallah telah memacu dirinya untuk membuktikannya ditengah–tengah pergaulan habluminannaas. Hubungan dengan Allah yang dilukiskan dengan bentuk ibadah ritual menjadi dasar motivasi diri. Sedangkan hubungannya dengan manusia telah memacu dirinya untuk membuktikan hidup penuh manfaat, karena hatinya terketuk oleh sabda Rasulullah saw : "Sebaik–baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia".

Salah satu bentuk penghargaan terhadap nilai kemanusiaan, seorang muslim tidak mungkin mematahkan harapan orang lain dengan berbuat khianat. Ingkar janji dan tidak mematuhi komitmen peraturan yang disepakatinya. Sehingga dalam ukuran yang nyata tersebut tampaklah ahlak muslim itu di jalanan, diperkantoran, dilorong–lorong sempit bahkan di dalam rumah tangganya telah tegak disiplin untuk menghargai orang lain.

Di jalanan, tidak mungkin dia melanggar rambu–rambu lalu lintas, karena pelanggaran berarti penghianatan terhadap nilai kemanusiaan yang telah melahirkan peraturan.
Begitu juga para pegawai muslim di perkantoran akan menunjukkan akhlaqnya yang mulia. Jangankan ada niat korupsi, untuk datang terlambat saja jiwanya bergetar, dia takut dikatagorikan sebagai orang munafik, karena telah melanggar janji. Ini semua sebagai wujud nyata dari aplikasi ritual dalam bentuk akhlak pergaulan di dalam masyarakat.

Di negara yang penduduknya mayoritas non muslim, menjadi sorga bagi para penyandang cacat. Bila di bandara ada orang yang memakai kursi roda, mereka diberikan prioritas dalam segala hal. Mereka diberi jalan khusus dan lift khusus. Di tempat parkir, mereka diberi ruangan khusus untuk para pengendara penyandang cacat. Mereka dihargai dan dimanusiakan.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bin Ash r.a.,sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: "Orang yang berbelas-kasih pasti dikasihi Yang Maha Pengasih. Berbelas kasihlah kepada penghuni di bumi, niscaya para penghuni langit akan berbelas kasih kepadamu sekalian". (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Akhlak menghargai disiplin.

Sikap disiplin merupakan mahkotanya umat Islam yang saat ini telah terbuang di keranjang sampah. Kita merasa bahwa disiplin hanya merugikan. Kenapa harus antri kalau bisa menyerobot. Kenapa harus mempercepat pelayanan masyarakat kalau bisa kita perlambat. Bila melanggar lalu lintas, kenapa harus menghadap pengadilan tilang bila masih bisa menyogok polisi. Kenapa harus buang sampah di kotak sampah bila lapangan, taman dan jalanan masih bisa kita jadikan tempat pembuangan sampah dan kotoran.

Sepertinya apa-apa yang diajarkan, dipraktekan secara terbalik. Ketika kita menghafalkan hadist bahwa kebersihan itu bagian dari iman, kita menterjemahkannya secara bertentangan. Masjid yang kumuh, jalanan yang kotor, sampah yang memenuhi saluran air tidak menjadi ruang kepedulian kita. Bahkan, kita menganggap hal tersebut bukan sebuah dosa sosial. Kita tidak merasakan bahwa sikap disiplin itu adalah merupakan pencerminan dari akhlak.

Sementara itu, .. di banyak negara yang mayoritas penduduknya non muslim menjadikan sikap disiplin dan taat hukum merupakan bagian dari jati dirinya. Dengan sangat disiplin mereka,antri untuk mendapatkan taksi. Semua berjalan sangat teratur. Bahkan,.. pada jam 3 malam saya menyaksikan satu kendaraan tetap tidak bergerak menunggu lampu merah, padahal tidak ada kendaraan lain kecuali kendaraan saya yang ada di belakangnya. Pengendara itu tetap disiplin tidak mau menerabas, dan baru berjalan setelah lampu hijau. Mereka tetap disiplin walaupun tidak ada polisi. Seakan –akan mereka berkata : "I am the Law and I am the police for myself". Sehingga dapat kita katakan bahwa sikap disiplin mentaati peraturan lalu lintas menunjukkan kepribadian bangsa. Sikap mentaati hukum merupakan mahkota kemuliaan bangsa. Hancurnya sebuah bangsa,karena sikap disiplin telah tercerabut dari masyarakatnya.

Akhlak melahirkan etos kerja.

Akhlak yang merupakan ajaran sentral agama Islam tidak lagi menyentuh dunia. Kita terperangkap dalam keasyikan ritual. Kita merasa terpuaskan bahwa dengan membaca istighfar 1000 kali, dosa–dosa kita terampuni tanpa sedikitpun melaksanakan persyaratannya. Padahal Rasulullah bersabda : "ikutilah perbuatan dosa itu dengan perbuatan baik". Artinya dosa baru terhapuskan bila disesali dan kemudian bertekad untuk menggantinya dengan akhlak yang mulia. Tanpa perubahan akhlak, maka semua istighfar kita hanyalah sepeti nyanyian merdu yang didendangkan dihadapan orang tuli. Kita tidak bisa menebus dosa tanpa akhlak yang baik (ichsan). Bahkan diriwayatkan bahwa ada dosa yang tidak dapat dihapus dengan shalat dan tidak dapat di hapus dengan berhaji, kecuali dengan bekerja keras. Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang bekerja dengan tangannya sendiri sampai sore hari, dan disore itu dia merasakan kelelahan, maka di sore itu pula dia diampuni dosanya".

Akhlak Islam mengajarkan bahwa : "tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Bahkan seseorang yang memikul kayu bakar sehingga punggungnya terluka, hal itu lebih baik daripada meminta–minta yang kadang–kadang diberi kadang ditolak". Budaya mengemis justru bertambah subur, karena secara ritual barangsiapa yang membangun Masjid akan dibuatkan rumah di sorga. Mereka membuang akhlak bekerja keras, dan lebih baik mengemis walaupun dia lakukan atas nama tuhan sekalipun. Maka berbagai dalih serta perdebatan bahkan seminar di gelar, kenapa pengemis itu bergentayangan di setiap perempatan jalan dst. Kesimpulannya ? para pembawa makalah mendapatkan honor, panitia mendapatkan untung, dan para pengemis pun keesokan harinya semakin bertambah.

Akhlak melahirkan kedermawanan.

Akhlak seorang muslim adalah akhlaq yang sangat peduli dengan orang lain, bahkan sebagaimana dinukilkan didalam Al-Qur’an, dia rela menderita demi mendahulukan kepentingan orang lain, sebagaimana gambaran kaum Anshor yang menolong kaum Muhajirin. Mereka rela membagi rumah dan hartanya dengan penuh keikhlasan, karena terpanggil semangat akhlak yang peduli dengan derita sesama saudaranya. Mereka adalah pribadi-pribadi yang mempunyai semangat bahagia untuk memberi (pleasure in giving). Mereka lakukan karena keterpanggilan amanah untuk menunjukkan akhlaq yang mulia melalui smangat kedermawanan.

Rasulullah memujikan orang dermawan seraya bersabda : "Orang Dermawan itu dekat dengan Allah, dekat kepada sorga, dekat pada manusia dan jauh dari neraka. Sedang orang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari sorga, jauh dari manusia dan dekat pada neraka“. Orang yang dermawan lebih dicintai Allah daripada orang yang ahli ibadah tetapi bakhil (kikir/pelit)". (HR Tarmidzi).

Kedermawanan menunjukkan nilai kemanusiaan yang sangat tinggi dan terhormat, tidak saja dihadapan sesama manusia, tetapi juga dihadapan Allah. Orang yang dermawan mengungguli para ahli ibadah yang bakhil, karena seorang dermawan betapapun sedikitnya prilaku ibadah ritual mereka dapat langsung dirasakan manusia. Sedangkan kebakhilan atau sikap kikir betapapun sifat itu melekat pada ahli ibadah, tetapi kebakhilannya dirasakan pahit bagai empedu bagi orang lain. Dengan demikian tampaklah bahwa nilai–nilai akhlak mengungguli nilai–nilai ritual, selama ritualnya hanya sekedar untuk meraih kesalehan personal dan melupakan nilai kesalehan sosial.

Sikap kedermawanan akan melahirkan pula sikap kepedulian. Bergetar jiwanya melihat penderitaan orang lain, kemudian tidak ada kata "berpangku tangan" melihat sesama saudaranya teraniaya. Dengan penuh tanggung jawab dipikulnya beban amanah untuk menyelamatkan harga dan martabat muslim serta umat manusia tanpa membedakan ras dan agama mereka. Salah satu kerinduannya di tengah–tengah pergaulan hidup, tidak lain menjadikan dirinya pelita yang berbinar memercikkan Rahmatan Lil Alamin.

Rasulullah saw bersabda : "Barangsiapa yang menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia maupun di akhirat. Barangsiapa yang menghilangkan sebagian kesulitan seseorang, niscaya Allah Azza wa Jalla akan menghilangkan baginya kesulitan dunia dari kesulitan akhirat. Dan barangsiapa yang selalu menolong kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan menolong kebutuhannya". (HR.Tabarani, Muslim, Tarmidzi).

Kedermawanan akan melahirkan sikap seperti pada umumnya orang yang modern, yaitu kerja keras mencari rejeki agar mereka dapat menegakan wibawa diri dan sekaligus memiliki potensi untuk menolong orang lain. Dari sikap kerja keras ini melahirkan sikap hati–hati dan waspada dalam caranya mengeluarkan uang sehingga lebih efisien dan efektip, karena sikap boros adalah kawannya setan. Kedermawanan melahirkan pula sikap empati ; sikap peduli dan menghargai setiap orang. Dia merasakan bahwa eksistensi dirinya hanya ada bila ada orang lain. Kehadiran orang lain bukan hanya sekedar benda, melainkan sebuah rahmat yang akan mengangkat martabat dirinya, sehingga mereka sangat peduli kepada orang lain, terutama sahabat dan tetangganya.

Rasulullah saw bersabda : "Jibril senantiasa berpesan kepadaku mengenai tetangga hingga aku menduga Jibril akan menjadikan tetangga sebagai ahli waris". (HR. Bukhori-Muslim)

Kiranya para jama’ah yang merindukan pertemuan dengan Sang Khaliq menjadikan akhlaq kedermawanan sebagai benang–benang emas yang menghiasi jubah kezuhudan mereka.

Akhlak memancarkan kasih sayang keluarga.

Para anggota jama’ah mukmin yang merindukan surga, akan tampak dari tata cara mereka berkasih sayang di dalam keluarga dan rumah tangganya. Pancaran cinta menyentuh setiap kalbu anggota keluarga. Tutur kata mereka bagaikan gemericik air yang melantunkan kesejukan, lembut dan menyejukkan. Sikap prilaku anggota keluarganya menunjukkan saling hormat dan mencintai. Jiwa mahabbah (kecintaan) lebih dominan bahkan mengalahkan jiwa amarah. Tertanam di dalam lubuk hati mereka, sabda Rasulullah : "Bukanlah pengikutku, mereka yang tidak menyayangi yang kecil dan menghormati yang tua". Sabda ini diproses menjadi sebuah sikap prilaku yang nyata. Orang tua mereka tampil sebagai pemimpin yang menunjukkan ketauladanan.

Orang tua berdiri bagaikan menara cahaya yang memantulkan kasih sayangnya, bukan dengan limpahan materi yang memanjakan, tetapi dalam bentuk tarbiyatul quluub (pendidikan hati) melalui ketauladanan. Karena mereka sadar bahwa tindakan lebih membekas daripada kata-kata. Maka pendidikan utama dan pertama dalam rumah–rumah mereka, adalah pendidikan tauhid kemudian mempraktekan dan membahas makna ibadah yang dipercontohkannya kepada mereka dalam bentuk yang nyata, inilah bagian dari akhlak ketauladanan !

Para orang tua beserta seluruh penghuni yang berada dibawah atap rumahnya, merasakan bahwa mereka adalah satu jama’ah yang kelak akan reuni di surga. Seluruh keluarga merindukan pertemuan ulang di alam baqa dan menjadi penghuni surga Aden , sebagaimana dijanjikan Allah dalam firman-Nya : "Surga Aden, mereka masuk kedalamnya bersama mereka yang saleh diantara orang tua mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka". (QS, Al-Ra’du : 23). Dan dalam ayat yang lain Allah berfirman : "Masuklah ke surga bersama istri kamu untuk digembirakan". (QS, Al Zuhruf : 70).

Seluruh keluarganya dibina dalam tali cinta serta harapan untuk kelak mereka berkumpul kembali di taman surga. Mereka berkasih sayang dan selalu menjaga akhlaknya, karena mereka sadar bahwa kekuatan akhlak akan menghimpun mereka kembali di yaumil akhir.

Seorang suami serta istrinya yang merindukan keluarganya berkumpul di surga tidak mungkin memalingkan wajah bathinnya dari mereka. Mereka sangat meyakini bahwa ketakwaan, keimanan dan akhlak akan menghantarkannya ke pintu–pintu yang penuh barokah bagi diri dan keluarganya kelak.

Al Thabrani dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan sabda Rosulullah Saw, : "Ketika seseorang masuk surga ia menanyakan orangtua, istri dan anak-anaknya. Lalu dikatakan kepadanya mereka tidak mencapai derajat amalmu". Ia berkata : "Ya Robbi, aku beramal bagiku dan keluargaku". Kemudian Allah memerintahkan untuk mengusulkan keluarganya ke surga". Setelah itu Ibnu Abbas r.a. membaca surat At Thur ayat 21, “ Dan orang – orang yang beriman,lalu anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, kami susulkan keturunan mereka pada mereka, dan Kami tidak mengurangi amal mereka sedikitpun".

Bukalah jendela hatimu ! Biarkan cahaya mentari yang begitu hangat menerpa seluruh sudut kehidupanmu . Engkau akan bergairah , bersuka cita dibawah semburan cahaya yang membuat seluruh mata memandang dan tubuhmu bergerak bagaikan tarian yang terus meliukkan tubuhnya mengikuti musik cahaya mentari. Benih–benih pengetahuan dan kearifan dalam jiwamu, hanya bisa kau tumbuhkan karena siraman cahaya. Biarkan dirimu diterpa sinar terang mentari, betapapun panasnya menyengat dan menghanguskan, kehidupan tak akan pernah menemukan kesejatiannya tanpa percikan cahayanya.

Sungguh bodoh menutup anugerah cahaya,.. Sungguh merugi orang-orang yang menutup pintu dari ketukan seorang pengembara yang akan membagikan berakahnya untukmu.
Rumahmu tempat engkau tinggal, bukanlah kuburan cina. Indah bangunanya, mahal harganya, luas tempatnya, tetapi hanya sekedar membungkus seonggok daging dan tulang, baunya busuk, keabadiannya sirna, peti yang kukuh semakin rapuh kemudian mendebu, sirna. Rumahmu yang sebenarnya bukanlah wujud keindahan yang hanya bisa dipandang dengan mata telanjang. Rumahmu adalah jiwamu yang wibawanya kau pantulkan dari cara memandang dengan mata hatimu yang memancarkan rasa iba kepada saudara–saudaramu. Ruh tak akan pernah sirna. Tetapi menjulang kelangit karena mengejar cahaya. Sedangkan ruh yang kosong dari cinta dan diliputi keserakahan akan tenggelam memasuki tanah– tanah busuk yang hitam berlumpur, bergabung dengan rayap yang bersembunyi dalam kegelapan.

Wassalamualaikum wr. wb,


Ditulis oleh : Ustdz. H. Toto Tasmara
Sunting oleh : H. Umar Hapsoro Ishak