Mengendalikan Nafsu (Syahwat) ?

Assalamualaikum wr. wb,

Kali ini, … saya coba mengumpulkan artikel-artikel yang sedang nge-trend akhir-akhir ini, sekedar buat mengendurkan ketegangan syaraf kita akibat dipenuhi dengan berita-berita hangat tentang isue Pemilu yang tidak jur-dil, DPT yang dimanipulasi, Caleg-caleg yang stress, sampai kisah koalisi partai untuk mengajukan Capres dan Cawapres yang penuh dengan tarik-menarik kepentingan individu/golongan.

Sekedar ulasan saya.

Sekitar dua abad yang lalu Karl Marx (1818-1883) menyatakan bahwasanya yang menentukan perang dan damai di antara manusia di dunia ini adalah perebutan mencari makan alias persoalan mengisi perut.

Segala permasalahan di dunia ini, berpusat kepada perut. Semua orang ingin kenyang, dan tak mau lapar, lalu berebut makanan. Maka terjadilah pertentangan, pertikaian yang tidak dapat dielakkan.

Dan satu setengah abad yang lalu datang pula seorang lagi yang bernama Sigmund Freud (1844-1900), menyatakan bahwa bukan urusan perut yang menjadi sebab timbulnya pertentangan dan perebutan di dalam dunia, melainkan faraj (alat kemaluan) lah yang menjadi penyebab, yaitu pemenuhan hasrat seksual yang tak terkendali.

Keduanya Karl Marx dan Sigmund Freud adalah para peneliti dalam masalah-masalah sosial. Mereka mengerahkan perhatian mereka untuk mencari sebab kericuhan ekonomi dan sosial di benua Eropa, dan mereka telah menyampaikan kesimpulan seperti di atas.

Tetapi nun jauh sebelum Marx dan Freud mengeluarkan fahamnya -750 tahun silam- Ulama Islam legendaris yaitu imam Al-Ghazali telah menyatakan bahwa terdapat dua faktor yang sangat menentukan keberlangsungan hidup manusia yaitu syahwat perut dan syahwat faraj (kemaluan).

Pandangan imam Ghazali di atas justru berlawanan dengan kedua ilmuwan Barat tadi, kalau menurut mereka, syahwat perut dan faraj adalah penyebab timbulnya kericuhan di dunia ini, karena landasan mereka yang sangat materialistis.

Sebaliknya, imam Ghazali memandang kedua syahwat tersebut adalah potensi yang dimiliki manusia untuk mempertahankan keberlangsungan hidup mereka, karena syahwat-syahwat tersebut merupakan anugerah Allah SWT kepada manusia, bahkan semua makhluk.

Apa jadinya jika manusia tidak mempunyai syahwat perut, sementara syahwat perutlah yang mendorong manusia agar tetap hidup dan tumbuh. Dan bagaimana pula jika manusia tidak mempunyai syahwat faraj, tidak ada hasrat untuk menikah dan kawin, sementara syahwat farajlah yang mendorong manusia untuk memiliki keturunan sehingga terjadi regenerasi?

Namun harus diingat, potensi yang ada jika tidak di kelola dengan baik maka keburukanlah yang di dapat. Di sini peran akal harus bermain. Akal yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain harus mampu menimbang, mengukur dan menakar baik dan buruk. Kalau peran akal sudah tidak bermain maka benarlah apa yang disimpulkan oleh si Marx dan Freud. Manusia tak lebih baik, atau sama dengan binatang, bahkan bisa jadi lebih parah dari binatang. Saling memakan dan bebas menggauli betina mana saja.

Tapi apakah dengan adanya akal sudah cukup? Apa yang menjadi tolok ukur bagi akal dalam menimbang baik dan buruk? Maka dari itu diutuslah Nabi dan Rasul untuk menyampaikan pengajaran dari Allah SWT. Karena Allah yang menciptakan manusia maka Dia pulalah yang paling tahu apa yang terbaik untuk manusia. Disampaikanlah kepada manusia lewat perantara Rasul pilihan-Nya, bagaimana cara memenuhi syahwat perut yang benar, mana yang halal dan mana yang haram. Demikian pula diajarkan bagaimana cara memenuhi syahwat faraj, mana yang boleh dinikahi, mana yang tidak, dan seterusnya.

Akal yang diisi muatan agama inilah, yang sejatinya mampu untuk mengelola potensi-potensi tersebut menjadi kekuatan. Akal yang sehat yang berisi ajaran agama tidak akan tega menyikut, menindas, melukai atau bahkan membunuh saudaranya hanya karena ingin memenuhi syahwat perut. Melainkan dia akan berpikir bagaimana agar orang lain juga bisa memenuhi syahwat perutnya dengan baik dan halal. Tidak sekali pun terpikir olehnya untuk menggauli istri orang lain, anak orang lain atau bahkan saudara kandung dan anaknya sendiri hanya karena ingin memenuhi syahwat farajnya. Melainkan dia akan berpikir bagaimana kejahatan yang diakibatkan syahwat faraj yang diumbar bisa dihapuskan.

Di sini kiranya salah satu fungsi dan hikmah ibadah puasa yang disyari’atkan oleh Allah S WT atas manusia. Puasa, adalah dimaksudkan untuk menahan diri, mengajari manusia untuk mengendalikan syahwat perut dan syahwat faraj sebagai potensi yang ada dalam dirinya. Meski makanan terhidang dihadapannya, makanan itu halal dan sehat, tetapi selama azan maghrib belum berkumandang ia tidak boleh menyantapnya. lstrinya yang dinikahinya secara sah, sesuai dengan tuntunan agama, tidak boleh ia gauli ketika ia sedang berpuasa. Dia harus mampu mengendalikan kedua potensinya itu. Selama satu bulan penuh manusia berlatih mengendalikan syahwat-syahwatnya itu tak lain agar ia menjadi makhluk Allah yang mulia. Seperti cerita Superman (manusia super) yang mampu mengendalikan potensi yang ada dalam dirinya, sehingga ia menjadi kekuatan yang dapat membantu orang yang lemah.(Buletin Mimbar Jum’at No. 37 Th. XXII - 12 September 2008)

Mengendalikan syahwat

Dalam agama Budha dikenal adanya ajaran bagaimana mengendalikan syahwat dengan konsep samsara. Rumusannya adalah sebagai berikut: (Hidup adalah samsara (sengsara/penderitaan), Samsara disebabkan karena adanya keinginan, untuk menghilangkan samsara dilakukan dengan cara meng hilangkan keinginan, dan untuk menghilangkan keinginan harus mengikuti metode delapan jalan kebenaran, yaitu ; pengertian yang benar, pikiran yang benar, ucapan yang benar, berbuatan yang benar, mata pencaharian yang benar, usaha yang benar, perhatian yang benar dan semedi (perenungan) yang benar.)

Sedangkan dalam Islam metode pengendalikan syahwat, dilakukan secara sistemik dalam ajaran yang terkemas dalam syari`ah dan akhlak.

Pengendalian syahwat seksual dilakukan dengan anjuran menikah, menutup aurat tubuh, larangan pergaulan bebas antar jenis, dan “puasa” (puasa mata, telinga dan perut).

Hidup melajang tidak direkomendasi meskipun dengan alasan hak azasi.

Pengendalian syahwat perut dilakukan dengan anjuran; jangan makan kecuali lapar dan berhenti makan sebelum kenyang, disamping puasa wajib dan puasa sunat.

Pengendalian syahwat kekayaan dilakukan dengan pola hidup sederhana dan kewajiban membayar zakat, dan anjuran infaq dan sadaqah. Sederhana tidak identik dengan miskin, sederhana adalah mengkonsumsi sesuai dengan standar kebutuhan universal. Jadi orang boleh punya sebanyak-banyaknya tetapi yang dikonsumsi (makanan, pakaian, kendaraan, rumah dsb) adalah sekedar yang dibutuhkan menurut standar kebutuhan universal. Banyak orang kaya hidupnya sederhana dan tak jarang orang miskin (yang pas-pasan) bergaya hidup bermewah-mewah.

Syahwat politik dikendalikan dengan penekanan bahwa pada hakikatnya seorang pemimpin adalah pelayan dari orang banyak yang dipimpinnya (sayyid al qaum khodimuhum). Politik adalah medan pengabdian, pemimpin adalah pejuang yang berpegang pada prinsip untuk memberi perlindungan dan kesejahteraan orang banyak yang dipimpinnya.

Syahwat gengsi dikendlikan dengan kesadaran akan fungsi, bahwa mobil adalah alat transportasi, pakaian adalah pelindung badan dan penutup aurat, rumah adalah tempat tinggal dan istirahat, harta adalah alat untuk menggapai keutamaan.

Syahwat dan Hawa Nafsu

Orang tertarik kepada lawan jenis adalah wajar dan tidak tercela. Jika ia menindak-lanjutinya dengan pendekatan , melamar dan menikah maka itu menjadi keutamaan, menjadi ibadah dan berpahala. Tetapi jika men follow up i dengan merayu, menipu dan memperkosanya atau berzina, maka syahwat itu sudah berubah menjadi apa yang dalam al Qur’an disebut hawa, yang dalam bahasa Indonesia menjadi hawa nafsu.

Demikian juga orang boleh ingin kaya, ingin jadi bupati, anggauta DPR atau bahkan ingin jadi presiden, itu semua adalah syahwat politik yang wajar, manusiawi, dan tidak tercela. Demikian juga orang yang ingin menjadi milyader atau konglomerat, adalah sah-sah saja. Dorongan syahwat jika diikuti dengan tetap memperhatikan nilai-nilai moral, maka ia bernilai positip. Nah jika dorongan syahwat dituruti tanpa kendali moral, maka ia berubah menjadi dorongan hawa nafsu yang bersifat destruktip. Ingin kaya dengan cara korupsi atau menipu, ingin menjadi pejabat dengan cara menyuap, nah itu semua ujungnya pasti destruktip.

Watak Hawa nafsu

Syahwat yang terkendali oleh akal sehat dan hati yang bersih, apalagi jika juga didasarkan nurani yang tajam dengan disertai pemahaman agama yang benar, maka syahwat berfungsi sebagai penggerak tingkah laku atau hasrat untuk menyuburkan motivasi kearah keutamaan hidup dan menjadikan hidupnya lebih bermakna dan terarah. Dalam kondisi demikian syahwat seperti energi yang selalu menggerakkan mesin untuk tetap hidup dan hangat. Keseimbangan itu menjadikan orang mampu menekan dorongan syahwat pada saatnya harus ditekan (seperti rem mobil), dan memberinya hak sesuai dengan kadar yang dibutuhkan.

Sedangkan hawa nafsu yang memiliki tabiat menuntut pemuasan seketika tanpa mempedulikan dampak bagi orang lain maupun bagi diri sendiri. Begitu kuatnya dorongan hawa nafsu, maka al Qur’an meng- ibaratkan kedudukan hawa nafsu bagi orang yang tidak mampu mengendalikannya seperti tuhan yang harus disembah (ittakhodza ilahahu hawahu).

Pengabdi hawa nafsu akan menuruti apapun perilaku yang harus dikerjakan, betapapun itu menjijikkan. Jika orang memanjakan syahwat dapat terjerumus pada glamourism dan hedonis, maka orang yang selalu mengikuti dorongan hawa nafsunya pasti akan terjerumus pada kriminalitas dan kenistaan. (Sumber : Mubarok institute)

Kita semua termasuk diri saya, juga sedang berjuang untuk mengendalikan hawa nafsu (syahwat) dimaksud, yang setelah kita sadari bahwa ia tidak bisa kita bunuh (matikan), namun kita harus berupaya keras untuk dapat mengendalikannya.

Semoga bermanfaat bagi diriku, keluargaku, maupun orang-orang yang memerlukannya.


Wassalamu’alaikum wr. wb,

Disunting oleh : Drs. H. Umar Hapsoro Ishak ~ dari berbagai sumber

Ana Khoirun Minhu

Assalamu'alaikum,
Sikap Sombong, ’Saya Lebih Baik Dari Dia’

Sombong, barangkali sama tuanya dengan peradaban manusia. Iblis dikutuk dan dikeluarkan dari surga juga lantaran sombong. Ia menolak bersujud kepada Adam as, manusia pertama, karena merasa dirinya lebih baik.

Allah SWT berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang (yang) lebih tinggi?' Iblis berkata: 'Aku lebih baik daripadanya, karena engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah'." (Shaad: 75--76).

"Ana khoirun minhu (saya lebih baik dari dia)," kata Iblis. Merasa diri lebih baik dari pada yang lain itulah sombong. Dan akibat sombong, iblis dikutuk.

Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan." (Shaad: 77--78).

Kita berlindung kapada Allah dari perbuatan sombong, baik dalam bentuk sifat, sikap maupun perilaku, karena ia dapat menjadi penghalang masuk jannah. Rasulullah saw bersabda, "Tidak akan masuk jannah (surga) seseorang yang terdapat dalam hatinya sifat sombong (kibr) meskipun hanya sebesar biji sawi." (HR Muslim).

Berhati-hatilah kita, karena sifat, sikap, dan perilaku merasa lebih baik, lebih mulia bisa menimpa siapa saja. Seorang tokoh yang memiliki pengikut banyak, reputasi yang luas juga berpotensi untuk menyombongkan diri lantaran ketokohannya dan pengikutnya yang banyak.

Seorang yang memiliki tubuh kuat, atletis, jawara, kadang tergoda memamerkan bentuk tubuhya, disamping tidak jarang gampang terpancing perkelahian, dalam urusan kecil sekalipun, hanya lantaran merasa dirinya pendekar.

Seorang rupawan juga kadang tergoda untuk membanggakan kecantikannya dan meremehkan yang tidak seganteng dan secantik dirinya, bahkan sampai mencacat bentuk fisik orang lain.

Seorang hartawan sering tergoda membanggakan pakainnya yang bagus, kendaraannya yang mewah, rumahnya yang mentereng dengan melihat sebelah mata pada kaum alit yang kumal, kotor, kolot dan pinggiran.

Seorang pejabat yang kebetulan pangkatnya lebih tinggi kadang merasa lebih baik dari bawahannya. Presiden merasa lebih baik dari menteri, jenderal merasa lebih baik dari kopral, direktur merasa lebih baik dari karyawan dan seterusnya.

Rasa sombong juga dapat menghinggapi ilmuwan. Ilmunya setinggi langit, titelnya profesor doktor, hafal Alquran, dapat berbicara dalam banyak bahasa. Tetapi, ia tidak sabar untuk menahan dirinya merasa lebih baik dari masyarakatnya.

Seorang bangsawan, karena merasa berasal dari keturunan yang mulia, aristokrat, darah biru, kadang merasa tidak sepadan jika harus bersanding, bergaul dengan yang bukan bangsawan.

Bahkan sifat sombong juga dapat menimpa seorang ahli ibadah atau ulama. Sosok yang secara kasat mata (dhahir) terlihat wara' (sangat hati-hati bersikap), zuhud (sederhana), bertahajud setiap hari, berpuasa senin-kamis, sholat rawatibnya tidak pernah tertinggal. Karena salatnya rajin sekali hingga jidatnya hitam. Namun, ternyata ia tergoda untuk menganggap dirinya orang yang paling suci, paling baik, paling takwa. Orang lain dianggap tidak ada apa-apanya dibanding dia.

Firman Allah SWT;

"Jangan mengatakan dirimu suci, ia (Allah) yang lebih mengetahui siapakah yang lebih bertaqwa." (An Najam : 32).

Kisah Abu Dzar patut kiranya menjadi pelajaran. Suatu ketika beliau sedang marah kepada seorang laki-laki sampai terucap, "Hai anak wanita hitam." Rasulullah mendengar hal itu, kemudian bersabda, "Wahai Abu Dzar, tidak ada keutamaan bagi kulit putih atas kulit hitam," (dalam riwayat lain ditambahkan, "melainkan karena takwa"). Mendengar hal itu Abu Dzar sangat menyesal hingga meminta orang tadi untuk menginjak pipinya. (HR Imam Ahmad).

Allah SWT berfirman : "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS, Luqman: 18).

Perihal sombong, Rasulullah mendefinisikan dalam sebuah riwayat, "Kibr (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR Muslim). Dua kata kunci: menolak kebenaran dan meremehkan manusia, itulah sombong. Ketika ada rasa ingin menonjolkan dan membanggakan diri, ketika hati kita keras menerima nasihat terlebih dari yang lebih yunior, ketika pendapat kita enggan untuk dibantah bahkan tidak jarang dipertahankan dengan dalil yang dipaksakan, ketika kita tersinggung tidak diberi ucapan salam terlebih dahulu, ketika kita berharap tempat khusus dalam sebuah majlis, ketika kita tersinggung titel dan jabatan yang dimiliki tidak disebut, maka jangan-jangan virus takabbur telah meracuni diri kita.

Imam Ghozali mengajari cara mawas diri agar tidak terjebak dalam sikap merasa lebih baik. Ketika kita melihat seseorang yang belum dewasa, kita bisa berkata dalam hati: "Anak ini belum pernah berbuat maksiat, sedangkan aku tak terbilang dosa yang telah kulakukan, maka jelas anak ini lebih baik dariku." Ketika kita melihat orang tua, "Orang ini telah beramal banyak sebelum aku berbuat apa-apa, maka sudah semestinya ia lebih baik dariku." Ketika kita melihat seorang 'alim, "Orang ini telah dianugerahi ilmu yang tiada kumiliki, ia juga berjasa telah mengajarkan ilmunya. Mengapa aku masih juga memandang ia bodoh, bukankah seharusnya aku bertanya atas yang perlu kuketahui?", Ketika kita melihat orang bodoh, "Orang ini berbuat dosa karena kebodohannya, sedangkan aku? Aku melakukannya dengan kesadaran bahwa hal itu maksiat. Betapa besar tanggung jawabku kelak."

Dalam satu riwayat dikisahkan, kota Baghdad diramaikan dengan kabar kedatangan seseorang yang dikenal oleh masyarakat luas sebagai wali (orang saleh). Guru spiritual dan syekh agung Baghdad - Junaidi Al Baghdadi. Kemudian ada seseorang menjumpai beliau dan bertanya, .. Anda-kah sang wali itu ?. Betul, jawab si tamu. Tak berapa lam kemudian berdirilah Syekh Junaidi Al Baghdadi, berpidato dihadapan para muridnya. "Orang ini dusta. Tidak ada seorang wali yang mengetahui dirinya sebagai wali. Dan tak ada seorangpun yang boleh mengatakan bahwa dirinya saleh."

Iblis masuk neraka dan dikutuk oleh Allah untuk selamanya, bukan lantaran dia tidak mempercayai adanya Tuhan (atheis), tapi semata-mata karena prilaku sombong, angkuh, takabur dan tinggi hati.

Lantas, atas dasar apa kita membanggakan diri ? Bukankah dunia ini bersifat fana? Bukankah kekayaan, pangkat, kecantikan, keturunan, pengikut, dan ilmu merupakan anugerah Allah yang bersifat sementara dan ujian bagi setiap manusia? Perbedaan fisik manusia tidak permanen dan ditujukan untuk menguji kesabaran dan akhlak manusia. Semuanya dapat dicabut sewaktu-waktu jika Allah menghendaki. Ia pun dapat merubahnya sekejab, si cantik dapat diubah-Nya menjadi si buruk rupa, sang jagoan bisa menjadi si buta, si kaya dapat bangkrut seketika, sang pejabat menjadi penghuni penjara, dan seterusnya.

Allah SWT hanya melihat ketakwaan seorang hamba. Bukan kekayaan, pangkat, fisik atau keturunan. Maka sungguh rugi kalau masih ada anak manusia yang masih merasa ana khairun minhu (saya lebih baik dari dia).

Wallahu a'lam bishshowab,

Wassalamu'alaikum,

Disunting oleh : H. Umar Hapsoro Ishak, dari berbagai sumber - a.l dari : Cybermq.com

Ilmuwan Muslim - Ibn Khaldun

Refleksi 600 Tahun Wafatnya Ibnu Khaldun

Pada bulan November 2006 yang lalu, tiga konferensi antar-bangsa digelar dalam rangka memperingati 600 tahun wafatnya ilmuwan muslim ini. Yang pertama pada 3-5 November di Madrid, Spanyol atas kerjasama Islamic Research and Training Institute IDB dengan Universidad Nacional de Educacion a Distance (UNED) dan Pusat Kebudayaan Islam setempat. Yang kedua pada 11 November 2006, di kampus Johann Wolfgang Goethe-Universitaet Frankfurt, dan yang ketiga pada 20-22 November 2006 di ISTAC Kuala Lumpur, Malaysia dengan tema: “Ibn Khaldun’s Legacy and Its Contemporary Significance”.

Sebuah universitas di Bogor telah mengabadikan namanya, namun mungkin masih ada di antara kita yang belum mengenal sosok serta pemikirannya: sejarawan besar dan pemikir ulung yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai 'bapak sosiologi’ (1332 - 1406 M).

Ibnu Khaldun adalah seorang ilmuwan besar yang terlahir di Tunisia pada 27 Mei 1332 atau 1 Ramadhan 732 H. Ia bernama lengkap Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad Ibn Khaldun Al-Hadrami Al-Ishbili. Selain dikenal sebagai pemikir hebat, ia juga seorang politikus kawakan.

Ibnu Khaldun hidup dimasa-masa Imperium Islam bagian Barat (termasuk Afrika Utara) di ambang kehancuran. Andalusia (kini, Spanyol) terpecah-belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kaum Murabitun (Almoravid) dan Muwahhidun (Almohad) saling rebut wilayah dan pengaruh. Sementara kaum Kristen Spanyol waktu itu tengah mengkonsolidasi kekuatan mereka dan menyusun strategi untuk melancarkan serangan besar-besaran demi merebut kembali semua daerah yang diduduki kaum Muslim – peristiwa kelam yang dinamakan ‘reconquista’

Diawali dari Toledo (1085), lalu Cordoba (1236), Seville (1248), dan kemudian Granada (1492), satu persatu wilayah Islam jatuh ke tangan orang-orang Kristen. Kondisi sosial-politik yang tak menentu itu tentu saja banyak memengaruhi perjalanan karir maupun pemikiran Ibnu Khaldun.

Setelah mundur dari percaturan politik praktis, Ibnu Khaldun bersama keluarganya memutuskan untuk menyepi di Qal’at Ibnu Salamah, sebuah istana yang terletak di negeri Banu Tajin, selama empat tahun. Selama masa kontemplasi itulah, Ibnu Khaldun menyelesaikan penulisan karyanya yang sangat fenomenal bertajuk Al-Muqaddimah.

''Dalam pengunduran diri inilah saya merampungkan Al-Muqaddimah, sebuah karya yang seluruhnya orisinal dalam perencanaannya dan saya ramu dari hasil penelitian luas yang terbaik,” ungkap Ibnu Khaldun dalam biografinya yang berjudul Al-Ta’rif bi Ibn-Khaldun wa Rihlatuhu Gharban wa Sharqan.

Muqaddimah

Adalah karya monumental Ibnu Khaldun, seorang ilmuwan yang juga seorang sejarahwan besar pada abad ke-14 M. Buku yang ditulis pemikir dari Tunisia, Afrika Utara ini tercatat sebagai karya yang sangat mengagumkan. Pengaruhnya begitru luar biasa, tak hanya mewarnai pemikiran di dunia Islam, namun juga peradaban Barat.

Orang Yunani menyebut karya Ibnu Khaldun itu sebagai Prolegomena. Sejumlah pemikir sepakat bahwa Muqaddimah adalah karya pertama yang mengkaji filsafat sejarah, ilmu-ilmu sosial, demografi, histografi serta sejarah budaya. IM Oweiss dalam karyanya bertajuk Ibn Khaldun: A fourteenth-Century Economist menilai, Muqaddimah merupakan salah satu buku perintis ekonomi modern.

Buah pikir Ibnu Khaldun itu begitu memukau. Tak heran, jika ahli sejarah Inggris, Arnold J Toynbee menganggap Al-Muqaddimah sebagi karya terbesar dalam jenisnya sepanjang sejarah.

Menurut Ahmad Syafii Ma’arif dalam bukunya berjudul Ibnu Khaldun dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur, salah satu tesis Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah yang sering dikutip adalah: `’Manusia bukanlah produk nenek moyangnya, tapi adalah produk kebiasaan-kebiasaan sosial.”

Secara garis besar, Tarif Khalidi dalam bukunya Classical Arab Islam membagi Al-Muqaddimah menjadi tiga bagian utama;

Pertama,
membicarakan histografi mengupas kesalahan-kesalahan para sejarawan Arab-Muslim.

Kedua,
Al-Muqaddimah mengupas soal ilmu kultur. Bagi Ibnu Khaldun, ilmu tersebut merupakan dasar bagi pemahaman sejarah.

Ketiga,
mengupas lembaga-lembaga dan ilmu-ilmu keislaman yang telah berkembang sampai dengan abad ke-14. Meski hanya sebagai pengantar dari buku utamanya yang berjudul al-Ibar, kenyataannya Al-Muqaddimah lebih termasyhur.

Dapat dikatakan, seluruh bangunan teorinya tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah termuat dalam kitab itu. Dalam buku itu Ibnu Khaldun, menyatakan bahwa kajian sejarah haruslah melalui pengujian-pengujian yang kritis.

''Di tangan Ibnu Khaldun, sejarah menjadi sesuatu yang rasional, faktual dan bebas dari dongeng-dongeng,” papar Syafii Ma’arif. Bermodalkan pengalamannya yang malang-melintang di dunia politik pada masanya, Ibnu Khaldun mampu menulis Al-Muqaddimah dengan jernih. Dalam kitabnya itu, Ibnu Khaldun juga membahas peradaban manusia, hukum-hukum kemasyarakatan dan perubahan sosial.

Menurut Charles Issawi dalam An Arab Philosophy of History, lewat Al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang menyatakan dengan jelas, sekaligus menerapkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar sosiologi. Salah satu prinsip yang dikemukakan Ibnu Khaldun mengenai ilmu kemasyarakatan antara lain; "Masyarakat tidak statis, bentuk-bentuk soisal berubah dan berkembang.”

Pemikiran Ibnu Khaldun telah memberi pengaruh yang besar terhadap para ilmuwan Barat. Jauh, sebelum Aguste Comte pemikir yang banyak menyumbang kepada tradisi ke-intelektualan positivisme Barat metode penelitian ilmu pernah dikemukakan pemikir-pemikir Islam seperti Ibnu Khaldun (1332-1406).

Dalam metodeloginya, Ibnu Khaldun mengutamakan data empirik, verifikasi teoritis, pengujian hipotesis, dan metode pemerhatian. Semuanya merupakan dasar pokok penelitian keilmuan Barat dan dunia, saat ini. "Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang berusaha merumuskan hukum-hukum sosial,” papar Ilmuwan asal Jerman, Heinrich Simon. (hri/des)

Selain itu, Ibnu Khaldun dalam adikaryanya itu juga membedah dan mengupas masalah teologi Islam. Yang lebih menarik lagi, Ibnu Khaldun pun membahas sains atau ilmu pengetahuan alam dalam kitabnya yang sangat populer itu. Secara khusus, Ibnu Khaldun mengupas tentang studi 'biologi' dan 'kimia' dalam bab tersendiri mengenai ilmu pengetahuan alam.

Barangkali karena kesibukannya sebagai pejabat negara dan keterlibatannya dalam politik, Ibnu Khaldun tidak banyak menghasilkan karya tulis. Hanya tercatat beberapa buku kecil seputar logika dan filsafat - “Lubab al-Muhashshal”, tentang tasawuf - “Syifa’ as-Sa’il li-Tahdzib al-Masa’il”, dan sebuah otobiografi - “at-Ta‘rif”. Namun, ia meninggalkan sebuah karya raksasa berjudul: “Tarjuman al-‘Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wal Khabar fi Ayyam al-‘Arab wal Barbar wa man ‘asharahum min dzawi s-Sulthan al-Akbar”.

Bagian pendahuluan dari kitab inilah yang melejitkan namanya ke seantero jagad. Tak aneh, sebab ‘Muqaddimah’nya itu tak ubahnya bagaikan kapsul yang memuat ekstrak prinsip-prinsip yang bekerja dibalik aneka manifestasi ilmu pengetahuan, pencapaian dan pengalaman masyarakat manusia dari masa ke masa. Sebagaimana diungkapkan pakar sejarah Arnold Toynbee: “In the Prolegomena (Muqaddimat) to his Universal History he has conceived and formulated a philosophy of history which is undoubtedly the greatest work of its kind that has ever yet been created by any mind in any time or place.” (Lihat: A Study of History: The Growths of Civilizations [New York: Oxford University Press, 1962], 3:321-8).

Karya yang ditulis Ibnu Khaldun dalam penjara itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Perancis (oleh William de Sale, ProlĂ©gomene historiques d’Ibn Khaldoun, Paris 1862-8), Jerman (oleh Annemarie Schimmel, Ibn Chaldun: Ausgewaehlte Abschnitte aus der Muqaddima, Tuebingen 1951) dan Inggris (oleh Franz Rosenthal, The Muqaddimah: An Introduction to History by Ibn KhaldĂ»n, 3 jilid, London 1958).

Pangkal Kejatuhan dan Kejayaan Bangsa

Berikut ini beberapa pandangan Ibnu Khaldun yang masih sangat relevan kini untuk menjadi bahan renungan kita yang sedang berusaha bangkit meraih kejayaan.

Masyarakat dan negara yang kuat adalah masyarakat dan negara yang padanya terdapat tiga perkara;


Pertama,
solidaritas kebangsaan yang kokoh, dimana sikap dan perilaku menzalimi, membenci dan menjatuhkan satu sama lain bertukar menjadi saling memberi, saling menghargai dan saling melindungi. Ibnu Khaldun menyebutnya ‘ashabiyyah atau ‘group feeling’ –meminjam terjemahan Rosenthal.

Kedua,
kuantitas dan kualitas sumberdaya manusianya. Rakyat yang setia kepada negara akan bertambah makna strategis maupun dampak positifnya secara ekonomis dsb jika setiap individunya unggul dan mumpuni. Sebaliknya, keunggulan sumberdaya manusia semata tidak akan banyak berarti jika suatu negara dilanda krisis demografis yang mengantarkannya kepada kepunahan.

Ketiga,
kebangkitan suatu bangsa dan kejayaan negara berawal dari dan hanya akan langgeng apabila orang-orangnya selalu optimis dan mau terus-menerus bekerja keras. Kesuksesan tidak dicapai sekonyong-konyong (la yahshulu lahum zhafarun bil munajazah), ujar Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, iii/49.

Ibnu Khaldun menganalogikan proses kelahiran dan kehancuran suatu negara dengan kehidupan manusia. Ada tahap-tahap yang mesti dilalui, masing-masing dengan pasang-surut dan pahit-manisnya. Menurut Ibnu Khaldun yang memandang proses sejarah dalam kerangka siklus (ketimbang proses linear ataupun dialektikal), runtuhnya suatu imperium biasanya diawali dengan kezaliman pemerintah yang tidak lagi mempedulikan hak dan kesejahteraan rakyatnya (iii/43) serta sikap sewenang-wenang terhadap rakyat (iii/22).
Akibatnya timbul rasa ketidakpuasan, kebencian dan ketidakpedulian rakyat terhadap hukum dan aturan yang ada. Situasi ini akan semakin parah bila kemudian terjadi perpecahan di kalangan elit penguasa yang kerap berbuntut disintegrasi dan munculnya ‘petty leaders’ (iii/45).

Yang paling menarik adalah observasi Ibnu Khaldun pada pasal 11: bahwa ketika negara sudah mencapai puncak kejayaan, kemakmuran dan kedamaian, maka pemerintah maupun rakyatnya cenderung menjadi tamak dan melampaui batas dalam menikmati apa yang mereka miliki dan kuasai. Itulah petanda kejatuhan mereka sudah dekat.

Namun, kejatuhan suatu bangsa hampir selalu didahului atau diikuti oleh kenaikan bangsa lain yang mewarisi dan meneruskan tradisi maupun peradaban sebelumnya. Sebagai pengganti yang belum semaju dan secanggih pendahulunya, bangsa yang baru muncul ini cenderung meniru bangsa yang pernah menjajahnya hampir dalam segala hal, dari cara berpikir dan bertutur hingga ke tingkah laku dan soal busana. Proses ini bisa berlangsung tiga sampai empat generasi.

Bangsa yang dikalahkan cenderung meniru bangsa yang menaklukannya karena mengira hanya dengan begitu mereka dapat menang kelak. Jika kejayaan suatu bangsa hanya bertahan empat atau lima generasi, hal itu dikarenakan generasi pertama adalah ‘pelopor’, generasi kedua ‘pengikut’, generasi ketiga ‘penerus tradisi’ (tradition keepers), sedangkan generasi keempat berpaling dari tradisi (tradition losers).

Berbeda dengan para penulis sejarah sebelumnya, Ibnu Khaldun dalam analisisnya berusaha objektif. Pendekatan yang dipakainya tidak normatif, akan tetapi empiris-positivistik. Uraiannya berpijak pada das Sein dan bukan das Sollen, pada apa yang sesungguhnya terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi. Hematnya, kejayaan suatu bangsa lebih ditentukan oleh apakah dan sejauh mana mereka secara kolektif berhasil memenej potensi-potensi yang ada padanya semaksimal dan optimal mungkin. (Dr Syamsuddin Arif - Harian Republika)

Biologi


Teodros Kiros dalam karyanya Explorations in African Political Thought, mengatakan, dalam bidang biologi secara khusus Ibnu Khaldun membahas masalah teori evolusi. Menurut Khaldun, dunia ini dengan segala isinya memiliki urutan tertentu dan susunan benda. Ia mencoba mencoba mengaitkan antara penyebab dan hal-hal yang disebabkan, kombinasi dari beberapa bagian penciptaan dengan yang lain, dan transformasi dari beberapa wujud menjadi sesuatu yang lain.

Selain itu, Ibnu Khaldun juga membahas penciptaan dunia. Menurut dia, makhluk hidup berawal dari sebuah mineral kemudian berkembang dan berakal. Secara bertahap, kemudian berubah menjadi tanaman dan hewan. "Tahap terakhir mineral ''terhubung'' dengan tahap pertama dari tanaman, seperti tumbuhan dan tanaman tak berbiji,'' tutur Ibnu Khaldun.

Tahap terakhir tanaman, lanjut dia, seperti pohon kelapa dan tumbuhan yang merambat (pohon anggur), terhubung dengan tahap pertama binatang, seperti keong (siput) dan kerang yang hanya memiliki kekuatan sentuh.

Menurut Ibnu Khaldun, dunia binatang kemudian semakin meluas menjadi berbagai jenis. Dalam proses penciptaan bertahap, hewan/binatang akhirnya mengarah ke bentuk manusia, yang mampu berpikir dan mengartikan. "Tahap tertinggi manusia dicapai dari dunia kera, di mana kedua kecerdasan dan persepsi ditemukan, namun belum mencapai tahap refleksi dan berpikir sebenarnya," tutur Ibnu Khaldun.

Ibnu Khaldun ternyata seorang penganut determinisme lingkungan. Dia menjelaskan bahwa kulit hitam itu disebabkan oleh iklim panas dari gurun Sahara Afrika dan bukan karena keturunan. "Dia justru menghalau teori Hamitic, di mana anak-anak Ham yang dikutuk oleh makhluk hitam, sebagai mitos," jelas Chouki El Hamel dalam karyanya Race, slavery and Islam in Maghribi Mediterranean thought: the question of the Haratin in Morocco.

Kimia

Menurut George Anawati, dalam bidang kimia, Ibnu Khaldun adalah seorang kritikus praktik kimia pada dunia Islam. "Dalam bab 23 berjudul Fi 'Ilm al-kimya, ia membahas sejarah kimia, yang dilihat dari ahli kimia seperti Jabir ibnu Hayyan (721-815 M), dan teori dari perubahan logam dan elixir (obat yang mujarab) kehidupan. " ungkap Anawati dalam karyanya Arabic Alchemy.

Anawati menambahkan dalam bab 26 Kitab Muqaddimah yang berjudul thamrat Fi inkar al-kimya wa istihalat wujudiha wa ma yansha min al-mafasid, Khadlun menulis sebuah sanggahan sistematis tentang kimia dalam sosial, ilmiah, filosofis dan dasar agama.

"Dia mengawali sanggahan pada dasar sosial, argumentasi bahwa banyak ahli kimia yang mampu mendapatkan penghasilan dari hidup karena pemikiran yang menjadi kaya melalui kimia dan akhirnya kehilangan kredibilitas," papar Anawati.

Ibnu Khaldun juga berpendapat bahwa beberapa ahli kimia terpaksa melakukan penipuan, baik secara terbuka dengan menggunakan sedikit lapisan emas/perak di atas perak/perhiasan tembaga maupun secara diam-diam menggunakan prosedur yang melapisi pemutihan tembaga dengan menyublimasi raksa. Meski begitu, ia mengakui bahwa ada saja ahli kimia yang jujur.

Ibnu Khaldun juga mengkritisi pandangan dan teori tenteng kimia yang dicetuskan al-Farabi, Ibnu Sina dan Al-Tughrai. "Ilmu pengetahuan manusia tak berdaya bahkan untuk mencapai yang terendah sekalipun, kimia menyerupai seseorang yang ingin menghasilkan manusia, binatang atau tanaman."

Anawati mengatakan, dalam mengkritisi ilmu kimia, Ibnu Khaldun pun menggunakan sosial logikanya. Anawati menuturkan bahwa Ibnu Khaldun dalam kitabnya menegaskan bahwa kimia hanya dapat dicapai melalui pengaruh psikis (bi-ta'thirat al-nufus). Hal yang luar biasa menjadi salah satu keajaiban dari ilmu gaib/ilmu sihir (rukiat) ... Mereka tak terbatas, tak dapat diklaim untuk mendapatkan mereka."

Prof Hamed A EAD, dari Universitas Kairo dalam tulisannya bertajuk Alchemy in Ibn Khaldun's Muqaddimah mengatakan bahwa Ibnu Khaldun mendefinisikan kimia sebagai "ilmu yang mempelajari zat yang mana generasi emas dan perak tiruan bisa diciptakan.''

Begitulah Ibnu Khaldun mengupas ilmu pengetahuan alam dalam karyanya yang sangat fenomenal, Al-Muqaddimah.

Disunting oleh : H. Umar Hapsoro Ishak, dari berbagai sumber - 25/07/09

Ku bersujud kepada-Mu ... Ampunilah aku !

Taubatnya Malik bin Dinar - Rohimahullah

Kehidupanku dimulai dengan kesia-siaan, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat zhalim kepada manusia, memakan hak manusia, memakan riba, dan memukuli manusia. Kulakukan segala kezhaliman, tidak ada satu maksiat melainkan aku telah melakukannya. Sungguh sangat jahat hingga manusia tidak menghargaiku karena kebejatanku.

Malik bin Dinar Rohimahullah menuturkan: Pada suatu hari, aku merindukan pernikahan dan memiliki anak. Maka kemudian aku menikah dan dikaruniai seorang puteri yang kuberi nama Fathimah.

Aku sangat mencintai Fathimah. Setiap kali dia bertambah besar, bertambah pula keimanan di dalam hatiku dan semakin sedikit maksiat di dalam hatiku.

Pernah suatu ketika Fathimah melihatku memegang segelas khamr, maka diapun mendekat kepadaku dan menyingkirkan gelas tersebut hingga tumpah mengenai bajuku. Saat itu umurnya belum genap dua tahun. Seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta'ala -lah yang membuatnya melakukan hal tersebut.


Setiap kali dia bertambah besar, semakin bertambah pula keimanan di dalam hatiku. Setiap kali aku mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala selangkah, maka setiap kali itu pula aku menjauhi maksiat sedikit demi sedikit. Hingga usia Fathimah genap tiga tahun, saat itulah Fathimah meninggal dunia.

Maka akupun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Aku belum memiliki sikap sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang dapat menguatkanku di atas cobaan musibah. Kembalilah aku menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Setanpun mempermainkanku, hingga datang suatu hari, setan berkata kepadaku: “Sungguh hari ini engkau akan mabuk-mabukan dengan mabuk yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Maka aku bertekad untuk mabuk dan meminum khamr sepanjang malam. Aku minum, minum dan minum. Maka aku lihat diriku telah terlempar di alam mimpi.

Di alam mimpi tersebut aku melihat hari kiamat.

Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumipun telah bergoncang. Manusia berkumpul pada hari kiamat. Manusia dalam keadaan berkelompok-kelompok. Sementara aku berada di antara manusia, mendengar seorang penyeru memanggil: Fulan ibn Fulan, kemari! Mari menghadap al-Jabbar. Aku melihat si Fulan tersebut berubah wajahnya menjadi sangat hitam karena sangat ketakutan.

Sampai aku mendengar seorang penyeru menyeru namaku: “Mari menghadap al-Jabbar!”

Kemudian hilanglah seluruh manusia dari sekitarku seakan-akan tidak ada seorangpun di padang Mahsyar. Kemudian aku melihat seekor ulat besar yang ganas lagi kuat merayap mengejar kearahku dengan membuka mulutnya. Akupun lari karena sangat ketakutan. Lalu aku mendapati seorang laki-laki tua yang lemah. Akupun berkata: “Hai, selamatkanlah aku dari ular ini!” Dia menjawab: “Wahai anakku aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah kearah ini mudah-mudahan engkau selamat!”

Akupun berlari kearah yang ditunjukkannya, sementara ular tersebut berada di belakangku. Tiba-tiba aku mendapati api ada dihadapanku. Akupun berkata: “Apakah aku melarikan diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri ke dalam api?” Akupun kembali berlari dengan cepat sementara ular tersebut semakin dekat. Aku kembali kepada lelaki tua yang lemah tersebut dan berkata: “Demi Allah, wajib atasmu menolong dan menyelamatkanku.” Maka dia menangis karena iba dengan keadaanku seraya berkata: “Aku lemah sebagaimana engkau lihat, aku tidak mampu melakukan sesuatupun, akan tetapi larilah kearah gunung tersebut mudah-mudahan engkau selamat!”

Akupun berlari menuju gunung tersebut sementara ular akan mematukku. Kemudian aku melihat di atas gunung tersebut terdapat anak-anak kecil, dan aku mendengar semua anak tersebut berteriak: “Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu!”

Selanjutnya aku mengetahui bahwa dia adalah putriku. Akupun berbahagia bahwa aku mempunyai seorang putri yang meninggal pada usia tiga tahun yang akan menyelamatkanku dari situasi tersebut. Maka diapun memegangku dengan tangan kanannya, dan mengusir ular dengan tangan kirinya sementara aku seperti mayit karena sangat ketakutan. Lalu dia duduk di pangkuanku sebagaimana dulu di dunia.

Dia berkata kepadaku:

Wahai ayah, ....
“belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid:16)

Maka kukatakan: “Wahai putriku, beritahukanlah kepadaku tentang ular itu.”
Dia berkata: “Itu adalah amal keburukanmu, engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakanmu. Tidakkah engkau tahu wahai ayah, bahwa amal-amal di dunia akan dirupakan menjadi sesosok bentuk pada hari kiamat? Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal shalihmu, engkau telah melemahkannya hingga dia menangis karena kondisimu dan tidak mampu melakukan sesuatu untuk membantu kondisimu. Seandainya saja engkau tidak melahirkanku, dan seandainya saja tidak mati saat masih kecil, tidak akan ada yang bisa memberikan manfaat kepadamu.”

Dia Rohimahullah berkata: Akupun terbangun dari tidurku dan berteriak: “Wahai Rabbku, sudah saatnya wahai Rabbku, ya, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” Lantas aku mandi dan keluar untuk shalat subuh dan ingin segera bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dia Rohimahullah berkata:
Akupun masuk ke dalam masjid dan ternyata imampun membaca ayat yang sama:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid: 16)

Itulah kisah taubatnya Malik bin Dinar Rohimahullah yang beliau kemudian menjadi salah seorang imam generasi tabi'in, dan termasuk ulama Basrah. Dia dikenal selalu menangis sepanjang malam dan berkata: “Ya Ilahi, hanya Engkaulah satu-satunya Dzat Yang Mengetahui penghuni sorga dan penghuni neraka, maka yang manakah aku di antara keduanya? Ya Allah, jadikanlah aku termasuk penghuni sorga dan jangan jadikan aku termasuk penghuni neraka.”

Malik bin Dinar Rohimahullah bertaubat dan dia dikenal pada setiap harinya selalu berdiri di pintu masjid berseru: .. “Wahai para hamba yang bermaksiat, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang-orang yang lalai, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang yang melarikan diri (dari ketaatan), kembalilah kepada Penolong-mu! Penolong-mu senantiasa menyeru memanggilmu di malam dan siang hari."

Dia berfirman kepadamu: “Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu hasta. Jika dia mendekatkan dirinya kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu depa. Siapa yang mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.”

Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memberikan rizki taubat kepada kita. Tidak ada sesembahan yang hak selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.

Malik bin Dinar Rohimahullah wafat pada tahun 130 H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmatinya dengan rahmat-Nya yang luas. (Misanul I'tidal, III/426).

Al-Quran Suci berbicara tentang memohon ampun:

1. "Dan bersegeralah kalian memohon ampun kepada Tuhan kalian, dan surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali ‘Imran [3]: 132)

2. "Dan barangsiapa yang melakukan kejahatan dan menzalimi dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, ia akan menemukan bahwa Allah itu Maha Pengampun Maha Penyayang." (QS an-Nisa [4]: 110)

3. "Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.”> (QS al-Maidah [5]: 74)

Hadis-hadis berikut ini berbicara dengan indah dan bagus sekali tentang istighfar (memohon ampun):

1. Rasulullah saw bersabda, “Beruntung orang yang menemukan dalam catatan amalannya banyak permohonan ampun (istighfar).”

2. Imam Ridha as berkata, “Perumpamaan istighfar ibarat daun-daun di atas sebatang pohon. Apabila pohon itu digoyang, maka daun-daunnya berguguran.”

3. Imam Ali as berkata, “Harumkanlah diri kalian dengan istighfar maka bau busuk dosa-dosa kalian tidak mengganggu kalian.”

4. Rasulullah saw bersabda, “Perbanyaklah memohon ampun karena Allah tidak mengajarkan kalian bagaimana memohon ampun kecuali karena Dia ingin mengampuni kalian.”

Kisah ini ku salin dan ku sunting dalam catatan ini untuk menasehati diriku dan keluargaku serta sahabat-sahabatku, agar selalu ingat kemana kita akan kembali untuk mempertanggung-jawabkan segala perbuatan kita di dunia ini.

.." Ya Allah ku bersujud kepada-Mu memohon ampunan-Mu atas segala dosa yang hamba perbuat, .. Ya Allah dosaku menggunung, .. ampunilah hamba-Mu ini, .. hanya kepada-Mu aku memohon ampunan "


Disalin & disunting oleh : H. Umar Hapsoro Ishak
*Dari berbagai sumber : a.l dari ~Qiblati edisi 06 tahun II – Maret 2007 M /Shafar 1428 H

Jangan ... Jangan Lakukan Itu Saudaraku !!!

Membaca kehidupan orang-orang sholeh sungguh menakjubkan. Terlebih lagi jika mereka adalah generasi terbaik umat ini. Kehidupan mereka bertabur mutiara hikmah dan pelajaran berharga bagi kehidupan generasi sesudahnya.

Kitab-kitab sejarah dan sunnah telah menorehkan lembaran-lembaran emas kehidupan mereka. Beruntunglah orang-orang yang meneladani mereka dengan baik.

Artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. ,(At Taubah 100)

Ada sebuah kisah menakjubkan yang dinukilkan kepada kita oleh “kutubussunnah” . Kisah yang terjadi antara dua orang sahabat mulia; Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu. Manusia paling afdhol setelah para rasul dan nabi. Kholifah Ar-Rosyid yang pertama semoga Allah meridhoinya. Dan khodim Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Yang pernah memintanya untuk menemaninya di surga. Lantas Nabi berkata kepadanya, “Kalau begitu aku akan mendo’akanmu, tetapi bantulah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud”. Dialah Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslamy rodhiyallahu ‘anhu.

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim di Mustadroknya, ia berkata, “Ini adalah hadits shohih menurut syarat Muslim dan keduanya tidak mengeluarkannya” . Dari Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslamy rodhiyallahu ‘anhu ia menuturkan, Rasulullah shollahu ‘alaihi wasallama memberiku sebidang tanah, dan ia juga memberi Abu Bakar sebidang tanah. Lalu kami berselisih pada sepokok kurma. Ia (Robi’ah) berkata, “Maka datanglah dunia”.

Maka Abu Bakar berkata, “Ini termasuk dalam batas tanahku”. Aku pun menyanggah, “Tidak .. akan tetapi ini termasuk dalam batas tanahku”. Lantas Abu Bakar melontarkan kepadaku kata-kata yang tidak aku sukai. Dan dia menyesali kata-katanya itu. Maka ia berkata kepadaku, “Hai Robi’ah, ucapkanlah kepadaku seperti apa yang telah aku katakan kepadamu sehingga menjadi qishosh”. Aku menjawab, “Tidak, demi Allah aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali yang baik”. Abu Bakar kembali berkata, “Demi Allah, engkau harus mengucapkan kepadaku seperti ucapanku kepadamu sehingga menjadi qishosh atau aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama”.

Aku berkata, “Tidak, aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali yang baik”.

Maka Abu Bakar tidak menerima pembagian tanah tersebut, dan ia mendatangi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Sementara aku (Robi’ah) mengikuti di belakangnya.

Sekelompok orang dari suku Aslam (suku Robi’ah) berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Dia yang telah melontarkan kata-kata itu kepadamu, kenapa dia yang mengadukanmu kepada Rasulullah?”.

Aku berkata, “Tahukah kalian siapa ini? Ini adalah Abu Bakar .. teman Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama di dalam gua. Orang yang dituakan oleh kaum muslimin. Jangan sampai ia menoleh dan melihat kalian membelaku, sehingga dia marah lantas Rasulullah ikut marah karena kemarahanya, maka Allah akan marah pula karena kemarahan keduanya. Jika sampai itu terjadi celakalah Robi’ah. Pulanglah kalian!!”.

Robi’ah bergegas menyusul Abu Bakar.

Sesampai Abu Bakar di hadapan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama, ia menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Robi’ah.

Rasulullah berkata kepada Robi’ah, “Hai Robi’ah, ada apa antara kamu dengan Ash-Shiddiq?” .

Robi’ah menceritakan apa yang terjadi dan apa yang diucapkan oleh Abu Bakar kepadanya. Dan keengganannya membalas Abu Bakar dengan ucapan yang sama.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata kepadanya, “Baiklah, jangan katakan kepadanya seperti yang dikatakannya kepadamu, akan tetapi katakanlah ‘Semoga Allah mengampunimu hai Abu Bakar”.

Maka Abu Bakar pergi meninggalkan majelis tersebut sambil menangis …[1]

Subhanallah!

Kisah menakjubkan yang dinukilkah oleh kutubussunah kepada kita. Di dalamnya terkandung butir-butir pelajaran berharga bagi setiap muslim yang ingin meneladani generasi emas umat ini.

Entah dari mana kita mulai memetik pelajaran kisah ini. Apakah dari Rasulullah shollallahu yang adil dan bijaksana; bagaimana beliau mendengarkan masalah ini dari kedua belah pihak. Dan bagaimana beliau akhirnya membuat keduanya melewati polemik ini dengan baik.

Ataukah kita mulai dari jiwa besar Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu. Ataukah kita akan membicarakan akhlak Robi’ah dan penghormatannya terhadap Ash-Shiddiq? ?

Akar kisah ini adalah apa yang terjadi di antara dua orang sahabat yang mulia ini, dan pandangan mereka yang berbeda tentang sebatang korma yang menjadi pemicu perselisihan kecil antara keduanya.

Dalam kisah ini, Robi’ah menuturkan penyebab terjadinya perselisihan ini, ia mengatakan (Dan datanglah dunia …) maksudnya sebab utama adalah karena perhatian kepada dunia dan perhiasannya. Seolah-olah Robi’ah rodhiyallahu ‘anhu mengatakan kepada kita bahwa "dunia dan perhiasaannya adalah penyebab banyak perselisihan di antara sesama muslim". Seolah-olah ia mengatakan kepada kita, kenapa harus berselisih, bertengkar, dan saling memutus hubungan persaudaraan hanya karena harta, tanah atau warisan dan urusan dunia lainnya?? Sampai kapan dunia ini menyibukkan kita dari tujuan dan cita-cita yang mulia?

Dengarkan firman Robb kita Subhanahu wa Ta’ala,

Artinya, “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Al-Kahfi : 45)

kemudian cobalah ulang lagi membaca dan merenungi penuturan Robi’ah (Lantas Abu Bakar melontarkan kepadaku kata-kata yang tidak aku sukai. Dan dia menyesali kata-katanya itu). Tidak diceritakan apa kalimat yang telah dilontarkan Abu Bakar kepada Robi’ah. Kita yakin tentu kalimat tersebut tak lebih dari sekedar ketidak sengajaan yang segera di sadari Abu Bakar dengan penyesalannya atas apa yang telah ia ucapkan. Ini merupakan ‘ibroh yang luar biasa. Seorang yang berjiwa besar sekalipun ia dihormati jika keliru segera kembali kepada yang benar. Kemudian tidak adanya nukilan ucapan Abu Bakar tersebut mengisyaratkan kepada kita bahwasanya Robi’ah sama sekali tidak memendam dendam. Ia ingin ucapan Abu Bakar tersebut dilupakan dan tidak diingat …

Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu meminta Robi’ah rodhiyallahu ‘anhu membalas ucapannya sebagai qishosh atas perbuatannya. Kedudukannya di sisi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama tidak membuatnya menghinakan dan merendahkan seseorangpun dari kaum muslimin bahkan dia tidak ingin menyakiti seseorangpun sekalipun itu hanya dengan ucapan sepele.

Dengan sikap yang mulia ini Ash-Shiddiq mengajarkan kepada kita sifat adil, tawadhu dan tidak sombong.

Di sisi lain juga tergambar jiwa besar Robi’ah. Ia tidak ingin membalas kalimat yang tidak disukainya dengan kalimat yang semisal. Bahkan ia menegaskan (Tidak ..demi Allah aku tidak akan katakan kepadamu kecuali yang baik). Ini peringatan bagi kita agar kita tidak membalas keburukan dengan keburukan. Jangan biarkan syetan mendapatkan celah untuk merusak mu’amalahmu bersama saudara-saudara dan sahabat-sahabatmu. Jangan ucapkan dengan lisanmu kecuali yang ucapan yang baik.

“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan”. (Al-Mukminun : 96)

Ini juga menjadi ‘ibroh yang berharga bagi orang-orang yang menjadikan lisannya laksana pedang untuk mencaci-maki, mencela, mengolok-olok, memakan bangkai saudaranya (ghibah), atau berdusta.

Jangan .. jangan lakukan itu saudaraku!!

Kemudian ia memberikan kepada kita pelajaran lain yaitu ’sabar’. Ia tidak membalas ucapan Abu Bakar .. sama sekali tidak.

Bukankah ini pelajaran bagi kita semua, agar kita mengendalikan nafsu dan emosi kita. Sangat disayangkan sebagian orang membalas satu kata dengan dua kali lipat atau bahkan berlebih-lebihan. Masalah sepele saja memantik emosinya, sehingga menggelegak lalu mencela, memaki dan melaknat. Lupakah ia wasiat Qudwah-nya shollallahu ‘alaihi wa sallama ketika mewasiatkan salah seorang sahabatnya, “Jangan marah”.[2]

Kemudian Abu Bakar yang menyesali perkataannya, ketika Robi’ah tidak mau membalasnya ia pergi menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama untuk meminta petunjuk dalam masalahnya itu. Ini mengandung faedah yang agung yaitu meminta bantuan orang yang lain yang bisa dipercaya dan amanah untuk menjadi penengah dan membantu mendamaikan.

Ketika Robi’ah mengikutinya. Di jalan beberapa orang kaum Robi’ah berusaha menghalanginya mengikuti Abu Bakar. Seolah-olah mereka mengatakan kepadanya (bukankah Abu Bakar yang salah kepadamu, dan engkau yang benar? Kenapa engkau mengikutinya? ) dengarkan jawaban yang sangat dalam maknanya dari Robi’ah (Tahukah kalian siapa ini? Ini adalah Abu Bakar, ini adalah teman (Rasulullah) di dalam gua .. orang yang dituakan oleh kaum muslimin!! Jangan sampai ia melihat kalian membelaku, lalu dia marah, lantas Rasulullah marah karena kemarahannya maka Allah pun marah karena kemarahan keduanya sehingga binasalah Robi’ah).

Sungguh akhlak yang tinggi baik perkataan maupun perbuatannya. Budi pekerti nan luhur dalam bermu’amalah, menghormati dan memuliakan.

Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua bagaimana memposisikan orang lain sesuai dengan kedudukannya. Semoga Allah meridhoimu hai Robi’ah ketika engkau mengetahui keutamaan orang yang memiliki kedudukan. Semoga Allah meridhoimu ketika engkau menghormati Abu Bakar dan memuliakannya. Semoga Allah meridoimu ketika engkau menimbang permasalahaan dengan timbangan syara’.

Lihatlah …Robi’ah mengetahui kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah, maka dia takut kemarahannya karena dia khawatir itu akan menyebabkan Rasulullah marah lalu menyebabkan Allah juga marah. Ini yang tidak terpikirkan oleh kaumnya yang menimbang masalah itu dengan emosi mereka semata. Dalam masalah ini pelajaran berharga bagi umat, bahwasanya emosi dan perasaan yang tidak dikontrol dengan batasan-batasan syara’ menyebabkan hasil-hasil yang tidak terpuji.

Lihatlah wahai saudaraku ..apa yang terjadi ditengah umat islam. Munculnya pemikiran-pemikiran dan perbuatan-perbuatan yang digerakkan oleh emosi dan semangat yang tidak mengikuti rambu-rambu syara’ ..sehingga menimbulkan kerusakan di muka bumi ..meledakkan, menghancurkan dan mengkafirkan.

Saudaraku kaum muslimin … ilmu syar’I yang dibangun di atas pondasi yang shohih adalah satu-satunya jalan menggapai keselamatan umat dan kemenangannya. Kita adalah umat yang memiliki manhaj dan azas yang jelas. Pilar-pilarnya jelas ..takkan ada yang menggoyahkan baik hawa yang diikuti atau emosi yg tak terkendali atau semangat yg kosong dari ilmu syar’i, selama kita berpegang teguh dengan dasar-dasar yang shohih tadi.

Inilah yang terjadi di antara dua orang sahabat sebelum keduanya sampai kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Adapun yang terjadi dihadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Keduanya bertemu dihadapan Rasulullah. Dan beliau mendengarkan dari keduanya dengan seksama. Beginilah Rasulullah dengan para sahabatnya rodhiyallahu anhum; mendengarkan mereka, duduk bersama mereka. Mereka meminta pendapatnya lalu beliau memberikan petunjuk dan saran. Mereka bertanya beliau menjawab.

Dalam kisah ini, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama mendengarkan penuturan keduanya. Dia tidak hanya mendengarkan sepihak. Ini bentuk keadilan beliau. Setelah beliau mendengar keduanya dan setelah jelas semua permasalahan, ia menunjukkan kepada Robi’ah yang lebih baik dari membalas ucapan Abu Bakar, dan beliau mendukungnya untuk tidak membalas bahkan beliau berkata kepadanya, “Katakan kepadanya (semoga Allah mengampunimu hai Abu Bakar)”.

Robi’ah pun mengucapkannya ..namun jiwa besar Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu yang takut kepada Allah tidak sanggup menerimanya sehingga air matanya mendahului kata-katanya. Dan ia pun pergi dengan menangis semoga Allah meridhoinya.

Ya Allah .. Alangkah indah dan mengagumkannya kisah ini, penuh dengan akhlak yang mulia, budi pekerti nan tinggi, saling memaafkan dan berlapang dada. Allah Ta’ala berfirman,

“Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”.(Asy Syuura 40)

Semoga Allah memberikan kekuatan dan keteguhan kepada kita untuk meneladani Salafush Sholeh .. Amin.

[1] Kisah ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad (4/58-59) dan Ath-Thobroni di Al-Mu’jamul Kabir (5/52-530 dan Ibnu Asakir di At-Tarikh (9/583) dan isnadnya dihasankan oleh Syeikh Al-Albany di As-Silsilah Ash-Shohihah (no. 3145).

[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.


Sumber : www.abuzubair. net
Copied : milis pengusahamuslim.com
Posted : H. Umar Hapsoro Ishak

WASPADALAH TERHADAP PERANGKAP RIYA...!


IKHLAS UNTUK ALLAH TA’ALA [1]

Apa syarat diterimanya amal?

Sebelum anda melangkah satu langkah - hendaklah anda mengetahui jalan untuk merengkuh keselamatanmu.

Janganlah anda memberati diri dengan amalan-amalan yang banyak,. Karena, alangkah banyak orang yang memperbanyak amalan, namun hal itu tidak memberikan manfaat kepadanya kecuali rasa capai dan keletihan semata di dunia dan siksaan di akhirat. [2]

Maka, sebelum memulai semua amalan, hendaklah anda mengetahui syarat diterimanya amal. Yaitu harus terpenuhi dua perkara penting pada setiap amalan. Jika salah satu tidak tercapai, akibatnya amalan seseorang tidak ada harapan untuk diterima.

Pertama : Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kedua : Amalan itu telah diperintahkan Allah SWT., dalam Al-Qur’an, atau dijelaskan oleh Rasul-Nya Saw., dan sunnahnya, serta mengikuti Rasulullah Saw. dalam pelaksanaannya.

Jika salah satu dari dua syarat ini rusak, perbuatan yang baik tidak masuk kategori amal shalih dan tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pernyataan ini ditegaskan dalam firman Allah Ta’ala;

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya” [Al-Kahfi : 110]

Dalam ayat ini, Allah SWT., memerintahkan agar amal yang dikerjakan ialah amalan shalih, yaitu amal perbuatan yang sesuai dengan aturan syari’at. Selanjutnya, Allah SWT., memerintahkan orang yang menjalankannya supaya mengikhlaskan amalan itu kepada Allah Ta’ala semata, tidak mencari pahala atau pamrih dari selain-Nya dengan amalan itu.

Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya ; “Dua perkara ini merupakan rukun diterimanya suatu amalan. Yaitu, amalan itu harus murni untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keterangan serupa juga diriwayatkan Al-Qadhi Iyadh rahimahullah dan lainnya” [Tafsir surah Al-Kahfi].

PERINTAH IKHLAS, LARANGAN BERBUAT RIYA DAN SYIRIK [3]

Ketahuilah, wahai saudaraku muslim, bahwa semua amalan pasti terjadi dengan niat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Sesungguhnya semua amalan ini terjadi dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan” [4]

Dan dalam amal itu harus mengikhlaskan niat untuk Allah Ta’ala berdasarkan firman Allah SWT.;

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat ; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” [Al-Bayyinah : 5]

Allah SWT., juga berfirman;

“Katakanlah : ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atas kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui” [Ali-Imran : 29]

Allah SWT,. juga telah memperingatkan bahaya dari berbuat riya’, dalam firman-Nya;

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu”. [Az-Zumar : 65]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Allah Ta’ala berfirman ; “Aku sangat tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia mneyekutukan selain Aku bersama-Ku pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya” [HR Muslim, no. 2985]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Barangsiapa mempelajari ilmu yang dengannya dicari wajah Allah Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk meraih kesenangan dunia dengan ilmu itu, ia tidak akan mendapat aroma surga pada hari kiamat” [5]

RIYA DAN JENIS-JENISNYA. [6]

Di antara jenis riya’ ialah sebagi berikut:

1). Riya Yang Berkaitan Dengan Badan;

Misalnya dengan menampakkan kekurusan dan wajah pucat, agar penampakan ini, orang-orang yang melihatnya menilainya memiliki kesungguhan dan dominannya rasa takut terhadap akhirat. Dan yang mendekati penampilan seperti ini ialah dengan merendahkan suara, menjadikan dua matanya menjadi cekung, menampakkan keloyoan badan, untuk menampakkan bahwa ia rajin berpuasa.

2). Riya Dari Sisi Pakaian;

Misalnya, membiarkan bekas sujud pada wajah, mengenakan pakaian jenis tertentu yang biasa dikenakan oleh sekelompok orang yang masyarakat menilai mereka sebagai ulama, maka dia mengenakan pakaian itu agar dikatakan sebagai orang alim.

3). Riya Dengan Perkataan;

Umumnya, riya’ seperti ini dilakukan oleh orang-orang yang menjalankan agama. Yaitu dengan memberi nasihat, memberi peringatan, menghafalkan hadits-hadits dan riwayat-riwayat, dengan tujuan untuk berdiskusi dan melakukan perdebatan, menampakkan kelebihan ilmu, berdzikir dengan menggerakkan dua bibir di hadapan orang banyak, menampakkan kemarahan terhadap kemungkaran di hadapan manusia, membaca Al-Qur’an dengan merendahkan dan melembutkan suara. Semua itu untuk menunjukkan rasa takut, sedih, dan khusyu’ (kepada Allah, pent).

4). Riya’ Dengan Perbuatan;

Seperti riya’nya seseorang yang shalat dengan berdiri sedemikian lama, memanjangkan ruku, sujud dan menampakkan kekhusyu’an, riya’ dengan memperlihatkan puasa, perang (jihad), haji, shadaqah dan semacamnya.

5). Riya’ Dengan Kawan-Kawan Dan Tamu-Tamu;

Seperti orang yang memberatkan dirinya meminta kunjungan seorang alim (ahli ilmu) atau ‘abid (ahli ibadah), agar dikatakan “sesungguhnya si Fulan telah mengunjungi si Fulan”. Atau juga mengundang orang banyak untuk mengunjunginya, agar dikatakan “sesungguhnya orang-orang baragama sering mendatanginya”.

PERKARA YANG DISANGKA RIYA DAN SYIRIK, PADAHAL BUKAN !

1). Pujian Manusia Untuk Seseorang Terhadap Perbuatan Baiknya;
Dari Abu Dzar, dia berkata : Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Beritakan kepadaku tentang seseorang yang melakukan amalan kebaikan dan orang-orang memujinya padanya!” Beliau bersabda : “itu adalah kabar gembira yang segera bagi seorang mukmin” [HR Muslim, no. 2642, Pent)

2). Giatnya Seorang Hamba Melakukan Ibadah Pada Saat Dilihat Oleh Orang-Orang Yang Beribadah
Al-Maqdisi rahimahullah berkata : Terkadang seseorang bermalam bersama orang-orang yang melaksanakan shalat tahajjud, lalu mereka semua melakukan shalat di sebahagian besar waktu malamnya, sedangkan kebiasaan orang itu melakukan shalat malam satu jam, sehingga ia pun menyesuaikan dengan mereka. Atau mereka berpuasa, lalu ia pun berpuasa. Seandainya bukan karena orang-orang itu, semangat tersebut tidak muncul.

Mungkin ada seseorang yang menyangka bahwa (perbuatan) itu merupakan riya’, padahal tidak mutlak demikian. Bahkan padanya terdapat perincian, bahwasanya setiap mukmin menyukai beribadah kepada Allah Ta’ala, tetapi terkadang banyak kendala yang menghalanginya. Dan kelalaian telah menyeretnya, sehingga dengan menyaksikan orang lain itu, maka kemungkinan menjadi faktor yang menyebabkan hilangnya kelalaian tersebut, kemudian ia dapat menguji urusannya itu, dengan cara menggambarkan orang-orang lain itu berada di suatu tempat yang dia dapat melihat mereka, namun mereka tidak dapat melihatnya. Jika dia melihat jiwanya ringan melakukan ibadah, maka itu untuk Allah. Jika jiwanya merasa berat, maka keringanan jiwanya di hadapan orang banyak itu merupakan riya’. Bandingkan (perkara lainnya) dengan ini” [7]

Aku katakan :
Kemalasan seseorang ketika sendirian datang masuk dalam konteks sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Sesungguhnya srigala itu hanyalah memakan kambing yang menyendiri", sedangkan semangatnya masuk ke dalam bab melaksanakan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Hendaklah kamu menetapi jama’ah" [8]

3). Membaguskan Dan Memperindah Pakaian, Sandal Dan Semacamnya
Di dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi”. Seorang laki-laki bertanya : “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan? )”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” [HR Muslim no. 2749, Pent]

4). Tidak Menceritakan Dosa-Dosanya Dan Menyembunyikan
Ini merupakan kewajiban menurut syari’at atas setiap muslim, tidak boleh menceritakan kemaksiatan- kemaksiatan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Semua umatku akan diampuni (atau : tidak boleh dighibah) kecuali orang yang melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan, yaitu seseorang yang melakukan perbuatan (kemaksiatan) pada waktu malam dan Allah telah menutupinya (yakni, tidak ada orang yang mengetahuinya, Pent), lalu ketika pagi dia mengatakan : “Hai Fulan, kemarin aku melakukan ini dan itu”, padahal pada waktu malam Allah telah menutupinya, namun ketika masuk waktu pagi dia membuka tirai Allah terhadapnya” [HR Al-Bukhari, no. 6069, Muslim no. 2990, Pent]

Menceritakan dosa-dosa memiliki banyak kerusakan, (dan) bukan di sini perinciannya. Di antaranya, mendorong seseorang untuk berbuat maksiat di tengah-tengah hamba dan menyepelekan perintah-perintah Allah Ta’ala. Barangsiapa menyangka bahwa menyembunyikan dosa-dosa merupakan riya’ dan menceritakan dosa-dosa merupakan keikhlasan, maka orang itu telah dirancukan oleh setan. Kita berlindung kepada Allah darinya.

5). Seorang Hamba Yang Meraih Ketenaran Dengan Tanpa Mencarinya
Al-Maqdisi berkata : “Yang tercela, ialah seseorang mencari ketenaran. Adapaun adanya ketenaran dari sisi Allah Ta’ala tanpa usaha menusia untuk mencarinya, maka demikian itu tidak tercela. Namun adanya ketenaran itu merupakan cobaan bagi orang-orang yang lemah (imannya, Pent)” [9]

Demikian, beberapa penjelasan berkaitan dengan riya’. Semoga Allah Azza wa Jalla menjauhkan kita semua dari sifat buruk ini, baik dalam perkataan maupun perbuatan, serta semoga menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas dalam beramal.

Washallallahu ‘ala nabiyyna Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. . Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
__________
Footnotes
[1]. Diasadur dari Kitab Al-Ikhlas, Syaih Husain bin Audah Al-Awaisyah, Maktabah Islamiyyah, cetakan VII, Tahun 1413H-1992M halaman 9-10
[2]. Contoh dalam masalah ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa slam ; “Alangkah banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar. Dan alangkah banyak orang yang shalat malam, namun ia tidak mendapatkan bagian dari shalat malamnya kecuali begadang” [HR Ibnu Majah, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh guru kami Syaikh Al-Albani dalam Shahihul-Jami, no. 3482]
[3]. Lihat kitab Al-Ikhlas, halaman 11-13
[4]. Bagian dari sebuah hadits di dalam dua kitab shahih
[5]. HR Abu Dawud dengan sanad yang shahih
[6]. Kitab Al-Ikhlas, halaman 63-67
[7]. Mukhtashar Minhajul Qashidin, halaman 234
[8]. Nash haditsnya ialah : “Tidaklah tiga orang tinggal di sebuah desa atau padang pasir, shalat (jama’ah) tidak ditegakkan pada diri mereka kecuali mereka akan dikuasai oleh setan. Maka hendaklah kamu menetapi jama’ah, karena sesungguhnya srigala itu hanyalah memakan kambing yang menyendiri” [HR Abu Dawud, dihasankan Syaikh Al-Albani, Pent]
[9]. Mukhtashar Minhajul Qashidin, halaman 218

Sumber : manhaj.or.id
Disunting oleh : H. Umar Hapsoro Ishak

Duta Islam Yang Pertama

Assalamu'alaikum wr. wb,

Mush'ab bin Umair salah seorang di antara para shahabat Nabi. Alangkah baiknya jika
kita, memulai kisah dengan pribadi-nya: Seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang paling ganteng dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat muda.

Para muarrikh dan ahli riwayat melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat:
"Seorang warga kota Mekah yang mempunyai nama paling harum". Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya demikian rupa sebagaimana yang dialami Mush'ab bin Umair.

Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja,
menjadi buah-bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan,
akan meningkat sedemikian rupa hingga menjadi buah cerita tentang keimanan, dan
menjadi tamsil dalam semangat kepahlawana, sebaga suatu riwayat yang penuh pesona, riwayat Mush'ab bin Umair atau "Mush'ab yang baik", sebagaimana biasa digelarkan oleh kaum Muslimin.

Ia salah satu di antara pribadi-pribadi Muslimin yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tetapi corak pribadi manakah?

Kisah hidupnya menjadi kebanggaan bagi kemanusiaan umumnya.

Suatu hari anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga
Mekah mengenai Muhammad al-Amin ... Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang
mengatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka,
sebagai da'i yang mengajak ummat beribadat kepada Allah Yang Maha Esa.

Sementara perhatian warga Mekah terpusat pada berita itu, dan tiada yang menjadi buah
pembicaraan mereka kecuali tentang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam serta
Agama yang dibawanya, maka anak muda yang manja ini paling banyak mendengar
berita itu. Karena walaupun usianya masih belia, tetapi ia menjadi bunga majlis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya oleh para anggota dan teman-temannya.

Wajahnya yang tampan dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Ibnu Umair, menjadi daya pemikat dan pembuka jalan pemecahan masalah.

Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa
mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar dan jauh dari gangguan gerombolan
Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.
Keraguannya tiada berjalan lama, hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu
senja didorong oleh kerinduannya, pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu.
Di tempat itu Rasulullah saw. sering berkumpul bersama dengan para sahabatnya.

Baru saja Mush'ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat al-Quran mulai mengalir dari
kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush'ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran dan menghujam di kalbunya.
Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa
terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkat
dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam.

Pemuda yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas
-- berlipat ganda dari ukuran usianya -- dan mempunyai kepekatan hati yang mampu
merubah jalan sejarah ...!

Khunas binti Malik yakni ibunda Mush'ab, seorang yang berkepribadian kuat dan
pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. la wanita yang disegani bahkan
ditakuti.

Ketika Mush'ab menganut Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan
dikhawatirkannya selain ibunya sendiri, bahkan walau seluruh penduduk Mekah beserta
berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan
yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush'ab
akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya bagi Mush'ab tidak dapat
dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk
menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah.

Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majlis Rasulullah,
sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah
murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya. Tetapi di kota Mekah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak.

Kebetulan seorang yang bernama Usman bin Thalhah melihat Mush'ab memasuki rumah
Arqam secara sembunyi-sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Secepat kilat orang-orang Quraisy mendapatkan ibu Mush'ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.

Berdirilah Mush'ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang
berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat al-
Quran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya
dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketaqwaan.

Ketika sang ibu hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba
tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai -- demi melihat nur atau cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan -- menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakannya itu.

Karena rasa keibuannya, ibunda Mush'ab terhindar memukul dan menyakiti puteranya,
tetapi tak dapat menahan diri dari tuntutan bela berhala-berhalanya dengan jalan lain.

Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan
dipenjarakannya amat rapat. Demikianlah beberapa lama Mush'ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang Muslimin hijrah ke Habsyi. Mendengar berita hijrah ini Mush'ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lain pergi ke Habsyi melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muhajirin, lain pulang ke Mekah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para shahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.

Baik di Habsyi ataupun di Mekah, ujian dan penderitaan yang harus dilalui Mush'ab di
tiap saat dan tempat kian meningkat. Ia telah selesai dan berhasil menempa corak kehidupannya menurut pola yang modelnya seperti yang telah dicontohkan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan ia merasa puas bahwa kehidupannya telah layak untuk dipersembahkan bagi pengurbanan terhadap Penciptanya Yang Maha Tinggi, Tuhannya Yang Maha Akbar ...

Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk
sekeliling Rasulullah saw. Ketika memandang Mush'ab, mereka sama-sama menundukkan
kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka.
Mereka melihat Mush'ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum
lagi hilang dari ingatan mereka -- pakaiannya sebelum masuk Islam -- tak obahnya
bagaikan kembang di taman, berwarna warni dan menghamburkan bau yang wangi.

Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan
syukur dalam hati, pada kedua bihirnya tersungging senyuman mulia, seraya bersabda:
Dahulu saya lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalhannya semua itu demi cintanya hepada
Allah dan Rasul-Nya.

Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush'ab kepada agama yang
lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya,
bahkan ia tak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala dan patut
beroleh kutukan daripadanya, walau anak kandungnya sendiri.

Akhir pertemuan Mush'ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba
mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan
tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan.
Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu
keputusan, tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata,
sementara Mush'ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula.

Saat perpisahan itu menggambarkan kepada kita, kegigihan luar biasa dalam kekafiran
fihak ibu, sebaliknya kebulatan tekad yang lebih besar dalam mempertahankan keimanan
dari fihak anak. Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah sambil berkata: "Pergilah
sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi". Maka Mush'ab pun menghampiri ibunya sambil berkata: !'Wahai bunda! Telah ananda sampaikan nasihat kepada bunda, dan anakanda menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya".

Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut: "Demi bintang! Sekali-kali aku takkan
masuk ke dalam Agamamu itu. Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi". Demikian Mush'ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar. Tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan 'aqidah suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Ilahi, telah merubah dirinya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani ...

Suatu saat Mush'ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat
itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama
kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai'at kepada Rasulullah di bukit
'Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut Agama-Allah, serta
mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai suatu peristiwa besar.

Sebenamya di kalangan shahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih
beupengarub dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada
Mush'ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada "Mush'ab yang baik".
Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat
penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib
Agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tempatan
atau kota hijrah, pusat para da'i dan da'wah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan
pembela al-Islam.

Mush'ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa fikiran yang
cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka beuduyun-duyun masuk Islam.

Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas
orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai'at di bukit 'Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan
Allah dan Rasul-nya.

Pada musim haji berikutnya dari perjanjian 'Aqabah, Kaum Muslimin Madinah mengirim
perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi saw. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru
mereka, oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush'ab bin Umair. Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush'ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atas dirinya itu tepat.

Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah
ditetapkan. la sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing
mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rasulullah yang di imaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka ....

Di Madinah Mush'ab tinggal sebagai tamu di rumah As'ad bin Zararah. Dengan di dampingi As'ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat
pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat; Kitab Suci dari Allah, menyampaian
kalimattullah "bahwa Allah Tuhan Maha Esa" secara hati-hati. Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta shahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya.

Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba
disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid
menodong Mush'ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan
murkanya Usaid, menyaksikan Mush'ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu di antaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan. Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal.

Tetapi Tuhannya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam -- yang diserukan beribadah
kepada-Nya -- oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui
tempat-Nya dan tak seorang pun yang dapat melihat-Nya. Bila dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk beusama Mush'ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi "Mush'ab yang baik" tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah. Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush'ab dan As'ad bin Zararah, bentaknya: "Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!"

Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam..., laksana terang dan damainya cahaya
fajar, ... terpancarlah ketulusan hati "Mush'ab yang baik", dan bergeraklah lidahnya
mengeluarkan ucapan halus, katanya: "Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan
dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak,
kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!".

Sebenamya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh
Mush'ab untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang
dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui,
ia akan membiarkan Mush'ab, dan jika tidak, maka Mush'ab berjanji akan meninggalkan
kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan
tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain. "Sekarang saya insyaf", ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan.

Ketika Mush'ab membacakan ayat-ayat al-Quran dan menguraikan da'wah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw., maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya, dan belum lagi Mush'ab selesai dari uraiannya. Usaid pun berseru kepadanya dan kepada shahabatnya: "Alangkah indah dan benarnya ucapan itu .. ·! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk Agama ini?" Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush'ab: "Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah".

Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari
rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq
di ibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah ….

Berita itu pun tersiarlah, dan tak lama setelah itu disusul dengan kehadiran Sa'ad bin Mu'adz, dimana setelah mendengar uraian Mush'ab, Sa'ad merasa puas dan menyatakan diri masuk Islam pula. Langkah ini disusul pula oleh Sa'ad bin 'Ubadah.

Dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka: "Jika Usaid bin Hudlair, Sa'ad bin 'Ubadah dan Sa'ad bin Mu'adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu .... Ayolah kita pergi kepada Mush'ab dan beriman bersamanya! Kata orang-orang yang hadir, ... kebenaran itu terpancar dari celah-celab giginya!".

Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada
taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya.· Hari-hari dan
tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para shahabatnya hijrah ke Madinah.
Orang-orang Quraisy semakin geram, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadap hamba-hamba Allah yang shalih.

Terjadilah perang Badar dimana kaum Quraisy memperoleh pelajaran yang amat pahit, namun mereka belum mau juga menyadarinya, .. mereka berusaha keras untuk menebus
kekalahannya. Kemudian datanglah giliran terjadi perang Uhud.

Rasulullah saw berdiri di tengah barisan pada perang Uhud, menatap setiap wajah
orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggillah
"Mush'ab yang baik", dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera. Peperangan pun berkobar, berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati perintah Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit
setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri.

Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin
beralih menjadi kekalahan. Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin dari puncak bukit, lalu tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membantai Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Melihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuh pun menujukan serangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.
Mush'ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik
perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
Dengan demikian menjadikan dirinya bagaikan membentuk barisan tentara ... Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush'ab bertempur laksana pasukan tentara besar .... Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang
sebelah lagi menebaskan pedangnya yang tajam .... Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah saw.

Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceriterakan saat-saat terakhir pahlawan besar Mush'ab bin Umair. Berkata Ibnu Sa'ad: Di ceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-'Abdari dari bapaknya, ia berkata: "Mush'ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum
Muslimin pecah, Mush'ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh
berkuda, Ibnu Umayah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush'ab mengucapkan: 'Muhammad itu tiada lain hanyaIah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul': Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mushab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada
sambil mengucaphan: 'Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul'. Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush'ab pun gugur, dan bendera jatuh".

Gugurlah Mush'ab dan jatuhlah bendera .... Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para
syuhada .... Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi
kancah pengorbanan dan keimanan. Di saat itu Mush'ab berpendapat bahwa sekiranya ia
gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada
pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada
Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan :
"Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh
beberapa Rasul".

Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya
sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat al-Quran yang selalu dibaca orang ....
Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring
dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia ....Dan seolah-olah
tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana,
maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan
ditakutinya itu.

Atau mungkin juga ia merasa malu karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh
kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya
dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.




Wahai Mush'ab cukuplah bagimu ar-Rahman ..
Namamu harum semerbak dalam kehidupan ....




Rasulullah bersama para shahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush'ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul'Urrat : "Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati' pahalanya didunia ini sedikit pun juga. Diantaranya ialah Mush'ab bin Umair yang gugur di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah
kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam "Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan dahinya tutupilah dengan rumput dzkhir!".

Betapa pun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda
Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga
bercucurlah air mata Nabi .... Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para
shahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji
ketulusan, kesucian dan cahaya .... Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak
melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan
mengeluarkan isi hatinya .... Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush'ab bin Umair
dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih
sayang, dibacakannya ayat: "Di antara orang-orang Mu'minin terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.(Q.S. 33 al-Ahzab: 23)

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda: "Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.

Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush'ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru: "Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah". Kemudian sambil berpaling ke arah shahabat yang masih hidup, sabdanya: "Hai manusia! Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam, Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya".

Salam atasmu wahai Mush'ab ....
Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada ....

Wassalamu'alaikum wr. wb,

Sumber : www.alsofwah.or.id (situs dakwah & informasi Islam)
Posted : H. Umar Hapsoro Ishak