Sebuah teka-teki kehidupan, yang sadar atau tidak sering timbul di dalam pikiran kita, mengapa saya tidak sekaya orang lain ? mengapa mereka yang banyak bermaksiat justru semakin sukses dalam bisnisnya? Apakah ini sudah takdir saya?
Untuk itu perlu kita kaji firman Allah Ta'ala berikut ini :
"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." QS. Az Zukhruf : 43
Bahwa Allah-lah yang mengatur pembagian rezeki kepada hambanya, Allah-lah yang mengatur penghidupan kita (ma'isyah kita) bukan orang lain, bukan pelanggan, bukan pimpinan perusahaan dan bukan diri kita, tapi Allah-lah yang menentukan seberapa banyak rezeki kita hari ini dan esok.
Lalu Mengapa Allah Menentukan Rezeki Saya Hanya Sedikit ?
Boleh jadi karena Allah tahu batas kemampuan kita, jika diberi kekayaan melimpah kita tidak lagi ingat kepadaNya, kita akan banyak berbuat maksiat. Karena Allah Maha Tahu, Dia mengetahui kadar kemampuan kita dalam menerima fitnah harta.
"Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. " QS. Al Baqarah : 233
"Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba- Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki- Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba- Nya lagi Maha Melihat." QS. Asy Syuura : 27
Semua itu terjadi karena Allah tahu kapasitas dan kemampuan kita dalam menerima ujian kekayaan, semua karena kasih sayang Allah kepada hambanya, ada orang yang jika diberi kemiskinan maka dia akan bermaksiat sedangkan jika dia dalam kecukupan maka dia banyak beramal kebajikan. Sebaliknya ada orang-orang yang diberi kemiskinan justru banyak beribadah, sedangkan jika diberi kekayaan akan bermaksiat.
"Bagi tiap sesuatu terdapat ujian dan cobaan, dan ujian serta cobaan terhadap umatku ialah harta-benda" HR. Tirmidzi
Kalau Rezeki Sudah Ditakdirkan Lalu Mengapa Kita Harus Berusaha dan Bekerja ?
Kita tidak pernah tahu takdir kita sebelum takdir itu terjadi, oleh karena itu tetaplah berusaha bekerja sungguh-sungguh dan banyak beramal kebaikan untuk menyambut takdir kita, karena kita akan dipermudah menuju takdir kita.
Tentang masalah ini, jangankan kita, sahabat Rosulullah-pun menanyakan hal yang sama, buat apa berusaha dan bersusah payah jika sudah ditakdirkan buruk ?
"Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar." (Shahih Muslim No.4786)
Jadi bersyukurlah jika Anda termasuk orang-orang yang dimudahkan dalam berbuat kebaikan. Selain dari itu, perbaiki kualitas agama kita agar kita lebih siap menerima ujian baik kekayaan dan kemiskinan, karena jika kita sudah berbuat baik dengan banyak bersedekah dan bertakwa maka Allah akan memudahkan jalan kesuksesan kita, sekali lagi renungkan firman Allah Ta'ala berikut ini :
"Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." QS. Al-Lail : 4 - 7
Lalu Bagaimana dengan Mereka yang Berbuat Dosa, Mengapa Mereka Justru Sukses di Dunia ini ?
Karena mereka telah melupakan peringatan Allah, maka Allah akan memberikan semua kenikmatan dunia sehingga mereka semakin lupa dan semakin banyak berbuat dosa yang akhirnya akan di azab dengan sekonyong-konyong, sesuai dengan firmannya :
"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." QS. Al An'aam : 44
Jadi berhati-hatilah jika disaat kita banyak berbuat dosa dan maksiat justru Allah memberi rezeki melimpah!
Ingatlah :
"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki- Nya tanpa batas." QS Al Baqarah :212
Wallahu'alam
Sumber : milis pengusahamuslim.com
Investasi Paling Aman
Investasi Paling Aman Sesuai Al-Qur'an dan Sunnah
Selama ini kita menabung di bank untuk mengamankan uang kita agar tidak berkurang dan tidak hilang dicuri orang. Kita mendepositokan uang kita ke bank dengan tujuan untuk memperbanyak harta, memperoleh keuntungan.
Bank selama ini diyakini sebagai institusi yang paling aman untuk investasi dan sebagai tempat menyimpan uang. Tapi kenyataannya ?
Islam sebagai agama yang yang hak dan sempurna telah memberikan petunjuk terbaik untuk mengamankan harta dan memperbanyak harta, tapi sayang banyak dari kita tidak mengetahui dan kalaupun tahu banyak yang tidak meyakininya, padahal yang berjanji untuk mengamankan uang dan memberi kuntungan yang banyak tersebut adalah Allah Rob Semesta Alam yang Maha Kaya yang Menguasai Perbendaharaan Alam Semesta.
Kita lebih yakin dengan janji-janji yang dikeluarkan oleh bank yang dipimpin oleh manusia-manusia yg lemah, sedangkan janji - janji Allah hanya diakui sebatas konsep di forum-forum diskusi agama belum sampai tahap penerapan dikehidupan sehari-hari secara menyeluruh.
Solusi yang ditawarkan Islam adalah "Sedekah" (yaitu menafkahkan harta dijalan Allah), ya yakinlah bahwa sedekah akan :
1. Mengamankan harta kita (lebih aman dari menyimpan uang di bank), harta tidak akan berkurang sedikitpun karena sedekah,
2. Sedekah akan memperbanyak harta kita (ratusan kali lipat lebih lebih baik dari bunga deposito).
Kebenaran ini didukung oleh hadist Nabi SAW :
"Tiga hal yang aku bersumpah atas ketiganya;
1. Tidak berkurang harta karena shodaqoh,
2. Tidak teraniaya seorang hamba dengan aniaya yang ia sabar atasnya, melainkan Alalah Azza Wajalla menambahkan kemuliaan, dan
3. Tidak membuka seorang hamba pintu permintaan melainkan Allah membuka atasnya pintu kefakiran" (HR Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Allah SWT berfirman :
"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. " (Al-Baqarah: 245).
"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir. Pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) dan Maha Mengetahui." (Al-Baqarah: 261).
Sebaliknya, mereka yang merasa bahwa bunga bank lebih baik dan lebih melipatgandakan uang maka sesungguhnya mereka telah tertipu, mereka tidak menyadari bahwa harta mereka akan musnah cepat atau lambat.
"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa" (Al-Baqarah: 276).
Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda.
"Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun, kemudian salah satunya berkata (berdo'a) : "Ya Allah, berilah pengganti bagi orang yang berinfak", sedangkan yang lain berdo'a :"Ya Allah, timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfak) kehancuran" [Muttafaqun alaih]
Kisah Seorang Petani yang Sukses
Ini adalah kisah tentang seorang petani yang shalih yang dikisahkan dari sebuah hadits Abu Hurairah rodhiyallohu anhu dari nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
"Ketika ada seorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan (mendung), 'Siramilah kebun si fulan!' maka awan itu menepi (menjauh) lalu mengguyurkan airnya di tanah bebatuan hitam.
Ternyata ada saluran air dari saluran-saluran itu yang telah penuh dengan air. Maka ia menelusuri (mengikuti) air itu. Ternyata ada seorang laki-laki yang berada di kebunnya sedang mengarahkan air dengan cangkulnya.
Kemudian dia bertanya, 'Wahai hamba Allah, siapakah nama anda?' dia menjawab, 'Fulan'.
Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, 'Mengapa anda menenyakan namaku?' dia menjawab, 'Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan Siramilah kebun si fulan! yaitu nama anda. Maka apakah yang telah anda kerjakan dalam kebun ini?'
Dia menjawab, 'Karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya ceritakan bahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (ditanam kembali). HR. Muslim
Dalam riwayat lain disebutkan:
Dan aku jadikan sepertiganya untuk orang-orang miskin dan peminta-minta serta ibnu sabil (orang yang sedang dalam perjalanan).
Penutup
Berhati-hatilah dalam beramal, janganlah kita berlaku riya, ingin dipuji atau sekedar mengharapkan balasan dunia yang dijanjikan Allah kepada kita dari amal2 tersebut, beramalah karena iman kepada Allah, ikhlas karena Allah semata, karena nanti kita tidak mendapatkan balasan diakhirat.
"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Huud: 15-16).
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (Al- Baqarah:264)
Semoga bermanfaat!
Sumber : pengusahamuslim.com
Selama ini kita menabung di bank untuk mengamankan uang kita agar tidak berkurang dan tidak hilang dicuri orang. Kita mendepositokan uang kita ke bank dengan tujuan untuk memperbanyak harta, memperoleh keuntungan.
Bank selama ini diyakini sebagai institusi yang paling aman untuk investasi dan sebagai tempat menyimpan uang. Tapi kenyataannya ?
Islam sebagai agama yang yang hak dan sempurna telah memberikan petunjuk terbaik untuk mengamankan harta dan memperbanyak harta, tapi sayang banyak dari kita tidak mengetahui dan kalaupun tahu banyak yang tidak meyakininya, padahal yang berjanji untuk mengamankan uang dan memberi kuntungan yang banyak tersebut adalah Allah Rob Semesta Alam yang Maha Kaya yang Menguasai Perbendaharaan Alam Semesta.
Kita lebih yakin dengan janji-janji yang dikeluarkan oleh bank yang dipimpin oleh manusia-manusia yg lemah, sedangkan janji - janji Allah hanya diakui sebatas konsep di forum-forum diskusi agama belum sampai tahap penerapan dikehidupan sehari-hari secara menyeluruh.
Solusi yang ditawarkan Islam adalah "Sedekah" (yaitu menafkahkan harta dijalan Allah), ya yakinlah bahwa sedekah akan :
1. Mengamankan harta kita (lebih aman dari menyimpan uang di bank), harta tidak akan berkurang sedikitpun karena sedekah,
2. Sedekah akan memperbanyak harta kita (ratusan kali lipat lebih lebih baik dari bunga deposito).
Kebenaran ini didukung oleh hadist Nabi SAW :
"Tiga hal yang aku bersumpah atas ketiganya;
1. Tidak berkurang harta karena shodaqoh,
2. Tidak teraniaya seorang hamba dengan aniaya yang ia sabar atasnya, melainkan Alalah Azza Wajalla menambahkan kemuliaan, dan
3. Tidak membuka seorang hamba pintu permintaan melainkan Allah membuka atasnya pintu kefakiran" (HR Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Allah SWT berfirman :
"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. " (Al-Baqarah: 245).
"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir. Pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) dan Maha Mengetahui." (Al-Baqarah: 261).
Sebaliknya, mereka yang merasa bahwa bunga bank lebih baik dan lebih melipatgandakan uang maka sesungguhnya mereka telah tertipu, mereka tidak menyadari bahwa harta mereka akan musnah cepat atau lambat.
"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa" (Al-Baqarah: 276).
Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda.
"Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun, kemudian salah satunya berkata (berdo'a) : "Ya Allah, berilah pengganti bagi orang yang berinfak", sedangkan yang lain berdo'a :"Ya Allah, timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfak) kehancuran" [Muttafaqun alaih]
Kisah Seorang Petani yang Sukses
Ini adalah kisah tentang seorang petani yang shalih yang dikisahkan dari sebuah hadits Abu Hurairah rodhiyallohu anhu dari nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
"Ketika ada seorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan (mendung), 'Siramilah kebun si fulan!' maka awan itu menepi (menjauh) lalu mengguyurkan airnya di tanah bebatuan hitam.
Ternyata ada saluran air dari saluran-saluran itu yang telah penuh dengan air. Maka ia menelusuri (mengikuti) air itu. Ternyata ada seorang laki-laki yang berada di kebunnya sedang mengarahkan air dengan cangkulnya.
Kemudian dia bertanya, 'Wahai hamba Allah, siapakah nama anda?' dia menjawab, 'Fulan'.
Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, 'Mengapa anda menenyakan namaku?' dia menjawab, 'Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan Siramilah kebun si fulan! yaitu nama anda. Maka apakah yang telah anda kerjakan dalam kebun ini?'
Dia menjawab, 'Karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya ceritakan bahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (ditanam kembali). HR. Muslim
Dalam riwayat lain disebutkan:
Dan aku jadikan sepertiganya untuk orang-orang miskin dan peminta-minta serta ibnu sabil (orang yang sedang dalam perjalanan).
Penutup
Berhati-hatilah dalam beramal, janganlah kita berlaku riya, ingin dipuji atau sekedar mengharapkan balasan dunia yang dijanjikan Allah kepada kita dari amal2 tersebut, beramalah karena iman kepada Allah, ikhlas karena Allah semata, karena nanti kita tidak mendapatkan balasan diakhirat.
"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Huud: 15-16).
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (Al- Baqarah:264)
Semoga bermanfaat!
Sumber : pengusahamuslim.com
Mencetak Dinar Ditengah Krisis

Mukjizat Konsep Ekonomi Nabi Yusuf a.s
Selintas judul di atas sangat bombastis. …Tapi, itulah kenyataan yang kami saksikan saat mengelilingi gunung Ringgit yang terletak di desa Sawaran Kulo, Kedung Jajang, Klakah, Lumajang, Jawa Timur. Rombongan kami terdiri dari pak M. Iqbal, pakar Islamic Financial Planning dan pemilik geraidinar yang ngetop sejak krisi global gelombang kedua dua bulan lalu, pak Azwin, seorang pakar kesehatan yang jadi professional di salah satu perusahan Jepang dan pak Aldin, pengusaha property yang tak asing lagi di Depok. Alhamdulillah, kami mendapat kesempatan berkunjung ke kawasan gunung Ringgit yang indah tersebut dari 26 – 28 Nopember 2008.
Gunung Ringgit adalah sebuah nama gunung yang terkenal di wilayah Klakah, Kabupaten Luamajang. Sejak dari kaki gunung sampai puncaknya terbentang sebuah areal perkebunan yang dikembangkan sejak zaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1912. Perkebunan Gunung Ringgit yang dimiliki oleh PT. AGRI HALBA telah berganti-ganti pemilik. Kendati alamnya sangat ekstrim, namun berkat kesungguhan dan kepiawaian para pengelolanya yang baru mentakeovernya sekitar tujuh tahun lalu telah berubah menjadi areal perkebunan modern yang exotic, bahkan bisa dikatakan berhasil disulap dari hutan ringgit (mata uang Malaysia) menjadi hutan Dinar (mata uang emas Islam yang dapat bertahan sejak lebih dari 14 abad silam).
Di atas areal 1.200 Ha tersebut, Dinar tersebar di mana-mana dan bahkan berjarak hanya 1 sampai 3 meter. Kenapa penulis namakan dengan dinar? Karena setiap pohon kayu sengon atau kayu jati emas, diprediksi sekarang harganya mencapai setengah Dinar, yakni sekitar 700.000 rupiah/pohon. Namun, jika dinilai dalam 3 – 4 tahun ke depan, kemungkinan harga per pohon kayu keras di perkebunan tersebut bisa mencapai satu Dinar yakni sekitar 1.4 jt rupiah, harga dinar saat ini.
Di areal yang subur dan hijau tersebut terdapat ratusan ribu pohon kayu sengon, jati emas, mahoni dan berbagai macam kayu lainnya dengan umur antara satu bulan sampai 6 tahun. Belum lagi termasuk pohon karet yang menutupi areal sekitar 400 Ha atau 300.000 pohon dengan produksi saat ini 400 kg perhari. Diperkirakan 4 sampai 5 tahun ke depan produksi karetnya mencapai di atas 1 ton perhari. Harga karet saat kami berkunjung sekitar USD 2.00/kg. Belum lagi tanaman lain seperti pisang kualitas ekspor dan berbagai jenis kayu dan tumbuhan lainnya.
Yang lebih unik lagi, para pekerja/buruh yang berjumlah sekitar 400 orang mendapat kesempatan mengembangkan potensi ekonomi mereka dengan beternak kambing dan sapi di dalam arela perkebunan tersebut. Binatang ternak tersebut murni menjadi milik mereka. Salah seorang di anatara mereka yang kami temui saat selesai shalat Subuh berjamaah menjelaskan dia memiliki 20 ekor kambing yang dapat dijual saat membutuhkan uang tunai. Hanya beberapa menit, Bapak setengah baya itu langsung pamit karena mau memulai aktivitas perkebunannya. Lalu saya berkata pada teman-teman : Pantas mereka berkah hidupnya, karena bekerja pagi-pagi bangat, apalagi setelah shalat Subuh berjamaah di Masjid.
Junjungan kita, Nabi Muhammad saw bersabda : “Diberkahilah umatku yang keluar mencari rezki di pagi hari buta”.
Sementara kita di kota, apalagi di Jakarta,... pagi hari buta masih ngorok, terus paginya habis umur di jalan karena macet.
Sungguh fantastis memang melihat fakta yang ada di Bukit Ringgit tersebut. Sampai-sampai kami berucap, ... Kok bisa Indonesia bangkrut ya?, dan .. Kok bisa mayoritas penduduknya miskin ya? Padahal potensi perkebunan dan pertaniannya sangat luar biasa, jika saja dikelola secara modern seperti yang kami lihat di gunung Ringgit itu. Berarti banyak hal yang ng'gak beres di negeri ini. Sungguh menyedihkan….
Sebelum diampbil alih oleh manajemen sekarang, nilai dan potensi perkebunan yang ada di dalam areal yang dikelilingi beberapa desa tersebut hanya sekitar 5 milyar rupiah. Dalam waktu 7 tahun kemudian berubah menjadi kebun Dinar (uang) yang sudah bernilai sangat tinggi. Baru-baru ini pernah ditawar oleh salah seorang Capres 2009 senilai 60 milyar. Allahu Akbar…
Sesungguhnya potensi ekonomi yang ada di dalam perkebunan tersebut jauh lebih besar dari itu. Perkirakan nilai aset sekarang tak kurang dari 100 milyar rupiah. Subhanallah…. Sebuah pertambahan nilai yang sangat fantastic dengan pertumbuhan lebih dari 200 % pertahun. Belum termasuk nilai tambah konservasi alam, kemakmuran buruh dan manfaat lain bagi masyarakat di sekitarnya. Padahal perkebunan tersebut ditakeover dan dikelola oleh manejemen yang baru sekaranag saat negeri ini sedang menghadapi krisis.
Rahasia Keberhasilan
Bagi yang belum menyaksikan dan memahami dunia perkebunan dengan konsep yag diterapkan di gunung Ringgit, keberhasilan tersebut memang tidak masuk akal. Saat dunia krisis, kok bisa merekayasa pertumbuhan asset menjadi lebih dari 200% pertahun? Tapi, inilah fakta yang kami lihat. Penilaian ini bukan hanya dari team kaimi, namun juga dari banyak kalangan yang sempat mendapat kesempatan berkunjung ke sana .
Lalu timbul pertanyaan mendasar : Apa rahasi keberhasilan luar biasa tersebut? Menurut hemat kami yang berdiskusi intensif - dari pagi sampai malam -, survey lapangan dan mendapat penjelasan serta pelajaran langsug dari perintis, pemilik dan sekaligus sebagi Dirut PT. AGRI HALBA, Bapak Dadang Muhammad, selama 2 haru 2 malam, kami dapat simpulkan sebagai berikut :
Paradigma Berfikir:
Selama ini, dalam pemikiran kebanyakan kita, bahwa perkebunan itu adalah aktivitas bercocok tanam di sebidang tanah yang dimilki sendiri atau kerjasama dengan pemilik tanah dengan konsep sewa atau kerjasama dengan sistem bagi hasil. Tanaman yang ditanam sebatas tumbuh-tumbuhan yang sudah diwariskan sejak turun temurun.
Jika di lahan tersebut dulunya ditanami sayur-sayuran, maka sampai saat inipun masih sayur-sayuran. Jika di lahan tersebut sejak dahulu ditanami tanaman buah seperti rambutan, mangga, jeruk dan sebagainya, maka sampai hari ini para petaninya juga akan menanam hal yang sama..Di samping itu, berkebun dianggap pekerjaan yang tidak keren, rendahan dan kampungan karena mengharuskan tinggal di pedesaan dan bahkan di hutan. Yang keren dan menarik ialah bekerja di kota , khususnya kota-kota besar kendati hanya sebagai kuli bangunan, pembersih jalan atau gedung, lalu bisa menikmati secuil kehidupan moderen materialistic yang berakibat hedonis.
Hal lain yang tak kalah kelirunya ialah bahwa menabung dan menumbuh kembangkan uang atau kekayaan hanya lewat institusi keuangan dan lembaga-lembaga isnvestasi lainnya yang menjanjikan, termasuk bursa saham. Lucunya, saat ekonomi dan keuangan kolaps seperti sejak tahun 1998 sampai sekarang, dunia perbankan - terlebih lagi bursa saham - dan lembaga-lembaga investasi lainnya juga ikut kolaps dan tidak mampu menahan kehancuran nilai tabungan dan investasi para penabung dan nasabahnya, apalagi menumbuhkembangkann ya. Bahkan bisa berakibat ludesnya asset atau kekayaaan yang kita miliki. Semua itu adalah gambaran kongkrit paradigma berfikir masyarkaat kita saat ini tentang uang, cara mencari uang dan menumbuh-kembangkan uang (investasi).
Lain halnya dengan pak Dadang Muhammad. Jebolan IPB yang nyentrik ini melihat bahwa uang itu tidak identik dengan uang kertas rupiah atau dolar AS yang dicetak dengan menuliskan angka tertentu di lembaran depan dan belakangnya yang dapat disimpan di bank. Akan tetapi, uang adalah apa saja yang bisa melahirkan value, termasuk meyerap sumber daya manusia (pemberdayaan masyarakat sekitar). Yang menarik, berbagai jenis pohon kayu keras maupun tumbuhan lainya di tangan pak Dadang menjadi bernilai uang. Uang-uang tersebut akan tumbuh dan berkembang sesuai system yang diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, yakni Allah Ta'ala, dan bisa menjadi berlipat-ganda dibanding dengan di-tabung atau di-investasikan melalui lembaga-lembaga investasi lainnya.
Pada suatu hari, saat salah seorang partner pak Dadang ingin menebang kayu-kayu yang sudah besar untuk diuangkan. Lalu ia berkata ; Untuk apa? Kitakan belum butuh uang sejumlah itu. Pak Dadang seakan mengisyaratakan kalau dibiarkan kayu-kayu tersebut tumbuh dan membesar malah nilainya akan bertambah berlipat ganda. Kalau ditaruh di bank dan sebagainya, jelas nilainya turun dan bahkan bisa habis.
Itulah paradigma berfikir yang benar tentang uang, cara mencari uang dan menginvetasikan (melipatgandakan) uang, apalagi di saat krisis seperti saat ini. Jika saja para pemimpin dan pengambil kebijakan di negeri yang tak kunjung keluar dari krisi ekonomi dan keuangan sejak sepuluh tahun yang lalu ini mampu merubah paradigma berfikir mereka, pasti negeri ini tidak akan babak belur seperti saat ini. Yang menakutkan lagi ialah, indikator-indokator makro dan mikro menunjukkan bahwa Indonesia masih akan menghadapi krisis yang berkepanjangan.
Ilmu Yang Mendalam.
Ilmu adalah modal kedua setelah iman. Terkait dengan perkebunan gunung Ringgit, ilmu yang mendalam tersebut diaplikasikan dengan baik oleh Pak Dadang dan kawan-kawannya. Berbagai percobaan dilakukan, baik terkait dengan bibit, jenis tanaman, maupun pupuk organic. Di samping itu, ilmu tentang market dan kecenderungan pasar lokal dan dunia juga merupakan hal yang sangat menjadi perhatian mereka.
Ilmu yang dikembangkan di perkebunan gunung Ringgit tersebut secara holistic dan konprehensif, seperti terkait dengan lahan/ tanah, bit/benih, pupuk, perawatan dan market dan timing (maktu) yang tepat untuk menanam. Terkait dengan bibit misalnya, jika tidak ada di Indoensia pak Dadang mencarinya di Negara lain seperti bibit pohon yilang-yilang (flower of flowers) yang bunganya menjadi bahan baku perfume kelas atas. Secara teknis, pak Dadang paham betul bibit mana saja yang akan bekembang sesuai harapan dan mana yang tidak. Sebab itu, dari dini sudah diketahuai secara pasti bahwa bibit itu akan bisa berkembang dan menghasilkan secara maksimal. Lalu, bibit seperti itulah yang akan ditanam dan dikembangakan.
Demikian juga dengan ilmu tentang pupuk. Pak Dadang merekayasa pupuk organic sendiri sehingga mengurangi biaya ketergantungan kepada pupuk chemical, di samping pupuk organic tersebut bisa menjaga dan memperbaiki struktur tanah yang sudah rusak oleh pupuk chemical.
Demikian juag ilmu tentang manajamen tanaman. Pak Dadang akan memenej tanaman yang akan ditanam sejak dari yang bisa dipanen setiap hari seperti nilam, jangka 5-6 tahun seperti jati emas, Sengon / Jenjing, Suren/Surian, Balsa, Jabon, Gmelina/Jati Putih serta jangkan panjang yang berumur 30 tahunan seperti Karet.
Yang membuat semua tanaman tersebut bernilai tinggi, kata kuncinya treletak pada dua hal :
a. Manajemen tanaman yang baik dan variatif dalam waktu yang sama sehingga lahan terfungsikan secara maksimal.
b. Memahami kebutuhan pasar lokal dan global bersifat jangka panjang, sehingga produksi tetap dapat dijual dengan harga yang tinggi, dan bahkan semakin tinggi.
Semangat Perjuangan (Keikhlasan)
Tak diragukan bahwa semangat perjuangan merupakan salah satu faktor keberhasilan. Sangat jelas tergambar dalam wajah pak Dadang bahwa beliu dan kawan-kawannya memiliki hal tersbeut. Bayangkan, dalam kondisi kiris, tujuh tahun lalu mereka bersepakat menekuni usaha perkebunan dengan modal dari kantong masing-masing. Sekarang, setelah Gunung Ringgit berubah menjadi kebun Dinar, apakah pak Dadang berhenti dan berleha-leha menikmatinya? Ternyata tidak. Beliau hidup sederhana dan berpenempilan low profile. Ia selau berfikir bagaimana menularkan ilmu dan pengelaman yang sangat berharga itu kepada semua orang, bahkan kepada pemerintah, kendati belum mendapat tanggapan yang serius.
Sebab itu, tak heran jiak pak Dadang dengan sangat semangat menyambut setiap orang yang datang dan berkunjung sambil menjelaskan pengalaman yang sangat berharga itu. Dalam pikiranya, tak ada yang harus disimpan, apalagi dimonompoli. Toh semua yang dia peroleh juga berasal dari kasih sayang Allah, Tuhan Pencipta alam semesta. Sebab itu, ilmu dan pengalaman harus dicurahkan untuk memperjuangkan mayoritas masyarakat yang masih miskin, khususnya masyarakat pertanian dan perkebunan. Untuk berjuang diperlukan keikhlasan. Kalaulah setiap pejabat, politisi, pemimpin dan pengusaha di negri ini berfikir dan berbuat demikian, dijamin berbagai persoalan negeri ini selesai. Namun disayangkan, yang ada di benak mereka dan praktek hidup mereka adalah sebaliknya. Sampai-sampai salah seorang pejabat tinggi BUMN pernah berkata kepada pebulis : Jangan heran Pak. Di mata mereka, yang penting untuk saya apa dan berapa. Sungguh menyedihkan…
Penulis : Fathuddin Ja'far - Dewan Redaksi EraMuslim
Sumber : milis pengusahamuslim.com
Hukum Sandiwara & Nasyid Islami
Oleh : Syaikh DR Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
Pertanyaan.
Syaikh DR Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Apa hukum sandiwara Islami, dan nasyid-nasyid yang dinamakn nasyid Islami, yang hal ini dilakukan oleh sebagian pemuda di pusat-pusat hiburan selama musim panas ?
Jawaban.
Sandiwara [1], saya katakan tidak boleh karena.
Pertama:
Di dalamnya melalaikan orang yang hadir [2] sebab mereka memperhatikan gerakan-gerakan pemain sandiwara dan mereka senang (tertawa) [3]. Sandiwara itu biasanya dimaksudkan untuk hiburan, sehingga melalaikan orang yang menyaksikan. Ini dari satu sisi.
Kedua:
Individu-individu yang ditiru, kadang-kadang berasal dari tokoh Islam, seperti sahabat. Hal ini dianggap sebagai sikap meremehkan mereka[4] , baik si pemain merasa atau tidak. Contoh: anak kecil atau seseorang yang sangat tidak pantas, menirukan ulama atau sahabat. Ini tidak boleh. Kalau ada seseorang datang menirukan kamu, berjalan seperti jalanmu, apakah engkau ridha dengan hal ini? Bukankah sikap ini digolongkan sebagai sikap merendahkan terhadap kamu? Walaupun orang yang meniru tersebut bermaksud baik menurut sangkaannya. Tetapi setiap individu tidak akan rela terhadap seseorang yang merendahkan dirinya.
Ketiga:
Yang ini sangat berbahaya, sebagian mereka menirukan pribadi kafir seperti Abu Jahal atau Fir'aun dan selain mereka. Dia berbicara dengan pembicaraan yang kufur yang menurut dugaannya dia hendak membantah kekufurannya, atau ingin menjelaskan bagaimana keadaan jahiliyah. Ini adalah tasyabuh (meniru). Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam melarang tasyabuh dengan orang-orang musyrik dan kufur [5] baik meniru (menyerupai) kepribadian maupun perkataannya. Dakwah dengan cara ini dilarang karena tidak ada petunjuk Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam serta bukan dari salafu ash shalih maupun petunjuk kaum muslimin. Model-model sandiwara ini tidak dikenal kecuali dari luar Islam. Masuk kepada kita dengan nama dakwah Islam, dan dianggap sebagai sarana-sarana dakwah. Ini tidak benar karena sarana dakwah adalah tauqifiyah (ittiba'). Cukup dengan yang dibawa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak butuh jalan seperti ini.[6]. Bahwasanya dakwah akan tetap menang dalam kurun waktu yang berbeda-beda. Tanpa adanya model-model sandiwara ini. Tatkala cara ini (sandiwara) datang tidaklah menampakkan kebaikan kepada manusia sedikitpun, dan tidak bisa mempengaruhinya. Hal itu menunjukkan bahwa cara ini (sandiwara) adalah perkara negatif dan tidak ada faedahnya sedikitpun. Bahkan di dalamnya terdapat hal-hal yang membahayakan.
Lalu jika ada orang yang berkata,'Sesungguhnya Malaikat itu menyerupai bentuk anak Adam.
Kami jawab, 'Malaikat-malaikat itu datang dalam bentuk anak Adam, karena manusia tidak mampu melihat dalam bentuknya yang asli. Ini merupakan kebaikan bagi manusia. Sebab jika malaikat datang dengan bentuk mereka yang sebenarnya, maka manusia tidak akan mampu berbicara dengan mereka dan tidak bisa melihat kepada mereka.[7] Para malaikat tatkala menyerupai bentuk manusia tidak bermaksud bermain sandiwara sebagaimana yang mereka inginkan. Malaikat itu menyerupai manusia dalam rangka memperbaiki. Karena malaikat mempunyai bentuk sendiri yang berbeda dari manusia. Adapun manusia maka bagaimana bentuk seseorang itu berubah kepada bentuk manusia yang lain. Apa yang mendorong kepada perubahan ini?
[Disalin dari kitab Al-Ajwibatu Al-Mufidah An-As’illah Al-Manahij Al-Jadidah, Edisi Indonesia Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, Pengumpul Risalah Abu Abdillah Jamal bin Farihah Al-Haritsi, Penerbit Yayasan Al-Madinah, Penerjemah Muhaimin]
__________
Foote Note
[1]. Syaikh Bakar Abu Zaid berkata dalam kitabnya At-Tamtsil,' Keberadaan sandiwara awalnya adalah bentuk peribadahan non-Islam. Sebagian ahlu ilmi menguatkan, bahwa inti sandiwara itu adalah bagian dari syiar-syiar peribadahan penyembah berhala di Yunani.(Hal 18).
Syaikh Al-Islam berkata dalam kitabnya Iqtidha Sirath Al-Mustaqim (191/ cet. Darul Hadits) tentang apa yang dikerjakan kaum Nashara pada hari raya mereka yang disebut ’Hari rayanya orang-orang yang berkepala udang” (id asy-Sya’anin): ”Mereka keluar pada hari raya dengan membawa daun zaitun dan sejenisnya, dan mereka menyangka sikapdemikian itu menyerupai apa yang ada pada Al-Masih ’Alaiahis Sallam. Hal ini telah dinukil oleh Syaikh Bakar Abu Zaid dalam At-Tamtsil. Syaikh Bakar mengisyaratkan tentang hal itu dalam kitabnya hal. 27-28 : ”Engkau telah mengetahui bahwa sandiwara itu tak ada hubungannya dengan sejarah kaum muslimin pada generasi yang pertama(utama) . Kedatangannya tak disangka-sangka pada masa sedikitnya orang yang berilmu, yakni pada abad 14H. Kemudian disambut dengan mendirikan rumah-rumah hiburan dan gedung-gedung sandiwara, serta merta berpindahlah dari tempat-tempat peribadahan kaum Nashara kepada sekelompok pelaku sandiwara Islami di sekolah-sekolah daripada sebagian jamaah Islam.
[Saya (Abu Abdillah) berkata : Contohnya Ikhwanul Muslimin”]
Apabila engkau memaklumi hal ini, maka ketahuilah bahwa kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip Islam yang mengangkat ahlinya kepada derajat mulia dan sempurna tentu menuntut penolakan dengan cara itu. Sebagaimana diketahui, bahwa suatu amal mungkin termasuk sebagai ibadah, atau bisa jadi termasuk sebagai adat. Maka asal ibadah, tidaklah disyariatkan kecuali apa yang disyariatkan oleh Allah dan asal adat adalah tidak dilarang kecuali apa yang telah Allah larang. Oleh karena itu sandiwara Islami itu tidak boleh diadakan sebagai jalan ibadah, atau pun sebagai bagian dari kebiasaan atau adat yang mengandung unsur permainan dan hiburan.
Sandiwara Islami tidak ditetapkan dalam syariat, dia jalan yang baru. Sebagian dari keseluruhan ajaran Islam adalah apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam ,'Barangsiapa yang membikin perkara-perkara baru dalam urusan kami(Islam), yang perkara itu buka dari Islam maka tertolak'. Karena itu, apa yang telah dilihat pada beberapa sekolahan atau kampus-kampus, yakni adanya permainan sandiwara Islami maka sesungguhnya itu adalah sandiwara bid'ah, karena telah diketahui asalnya. amalan tersebut bagi kaum muslimin adalah perkara yang keluar dari daerah yang ditentukan berdasarkan dalil syar'i.
Karena amalan tersebut merupakan peribadahan penyembah berhala dari Yunani dan ahlu bid'ah Nashara, maka tak ada dasarnya dalam Islam secara mutlak. Jadi amalan itu adalah perkara baru dalam Islam dan setiap perkara baru dalam Islam adalah bid'ah yang menyerupai syariah. Nama yang pas untuk istilah itu berdasar syariat Islam adalah 'Sandiwara Bid'ah'.
Apabila sandiwara ini dimasukkan sebagai adat, maka hal itu menyerupai musuh-musuh Allah (kafir). Sedangkan kita telah dilarang menyerupai mereka. Sementara perkara itu tidak dikenal kecuali dari mereka.
Saya (Abu Abdillah) berkata, ”Sesungguhnya ; ’Sandiwara Islami’, sebagaimana yang mereka namakan –hanya terdapat di pusat hiburan selama musim panas dan sekolah-skolah, dianggap sebagai salah satu metode dakwan dan cara mempengaruhi para pemuda. Ini merupakan akal-akalan mereka, yang secara syara tertolak. Padahal cara dan metode dakwah kepada Allah tauqifiyah (ittiba), maka tidak ada hak bagi seseorang untuk membikin sesuatu (untuk peribadahan) dari dirinya. Saya tidak akan membicarakan masalah sarana dakwah secara panjang lebar.
Jika ada orang yang berkata,'Sesungguhn ya sarana-sarana berdakwah merupakan bagian dari mashalihul Mursalah'. Kami jawab,'Apakah syariah meremehkan segala kebaikan bagi hamba-hambanya?
Jawabannya terdapat dalam keterangan Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, sebagai berikut, 'Secara singkat bahwa syariah tidak meremehkan kebaikan (maslahah) sama sekali, bahkan Allah Ta'ala telah menyempurnakan dien nikmatNya bagi kita. Jadi tidak ada yang mendekatkan diri ke surga kecuali kita telah diperintahkan beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam untuk mengerjakannya. Beliau telah meninggalkan kita di atas lembaran yang putih bersih. Malamnya seprti siangnya, tidak menyimpang daripadanya melainkan orang yang binasa.[Dinukil dari kitab : Hujaju Al-Qawiyyah Ala Anna Wasa’ila ad-Da’wah Tauqifiyah karya Syaikh Abdussallam bin Barjas hal. 40]
Saya (Abu Abdillah) berkata, 'Apabila sejumlah besar dari berbagai kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan bertaubat kepada al-haq dengan jalan yang syar'i dan memang harus demikian. Maka mengapa seorang da'i mencari jalan yang tidak terdapat di dalam syara' ? Lagipula bahwa sesungguhnya apa yang terdapat dalam syara' sungguh telah mencukupi untuk memperoleh tujuan dakwah kepada Allah. Yakni menjadikan ahlu maksiat bertaubat dan orang-orang yang tersesat mendapat petunjuk. Hendaklah para da'i melapangkan dirinya tatkala berdakwah kepada Allah dengan sarana yang para sahabat melapangkan diri mereka di atasnya. Sesungguhnya mereka kembali menuju kepada ilmu. Ibnu Mas'ud berkata,'Sesungguhn ya kalian akan menciptakan perkara yang baru dan akan diciptakan perkara baru untuk kalian, Maka, apabila kalian melihat perkara yang baru, wajib atas kalian berpegang dengan perkara yang pertama (Rasulullah dan para sahabat)'. Ibnu Mas'ud berkata pula,'Hati-hati kalian terhadap bid'ah, hati-hati kalian terhadap berlebih-lebihan, hati-hati kalian terhadap berdalam-dalaman dan wajib kalian berpegang teguh dengan generasi yang dahulu'.[ Dinukil dari kitab : Hujaju Al-Qawiyyah Ala Anna Wasa’ila ad-Da’wah Tauqifiyah karya Syaikh Abdussallam bin Barjas hal. 43]
Syaikh Abdussalam berkata,'Sesungguhn ya menentukan kebaikan dalam suatu perkara adalah sulit sekali. Kadang-kadang seorang pengamat menyengka bahwa ini adalah maslahah, padahal ini, sesungguhnya yang berkuasa menentukan kemaslahatan adalah ahlu ilmi. Merekalah yang dipenuhi keadilan dan bashirah, yang senantiasa mewujudkan hukum-hukum syariah serta kebaikan-kebaikan. Oleh karena itu suatu masalah butuh sikap hati-hati yang besar dan sangat waspada dari penguasaan hawa nafsu jika menghendaki sesuatu yang baik. Hawa nafsu sering menghiasi sesuatu yang rusak menjadi tampak baik, sehingga banyak orang tertipu. Padahal bahayanya lebih besar daripada manfaatnya. Lalu bagaimana para muqallid(orang yang taklid) itu bisa dikuasai dengan persangkaan kemudian menentukan bahwa ini adalah maslahah ? Bukankah ini merupakan sikap lancang terhadap dien dan sikap nakal terhadap hukum syar'i dengan tanpa keyakinan ? (hal 45)
Dia Abdussalam menukil juga dari Syaikh Hamud bin Abdullah At-Tuwajiri rahimaullah, katanya : Sesungguhnya memasukkan sandiwara dalam berdakwah kepada Allah Ta’ala bukanlah dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan dari sunnah Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyin. Melainkan termasuk perkara baru pada zaman kita. Dan sungguh Rasulullah telah memperingatkan dari perkara-perkara yang baru, memerintahkan untuk menolaknya, serta mengabarkannya bahwa perkara baru itu adalah buruk dan sesat” (hal. 45)
[2]. Di dalamnya mengandung unsur menyia-nyiakan waktu. Orang Islam akan dimintai pertanggungjawabann ya terhadap waktunya. Dia dituntut untuk memelihara dan mengambil faedah dari waktunya, untuk mengamalkan apa-apa yang diridhai oleh Allah Ta'ala, sehingga manfaatnya kembali kepadanya baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana hadits Abu Barzah Al-Aslamy, dia berkata,'Telah bersabda Rasulullah,
”Artinya : Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan. tentang hartanya darimana dia dapatkan, dan untuk apa dia infakkan. tentang badannya untuk apa dia kerahkan. [Dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi 2417 dan dia menshahihkannya]
[3]. Umumnya sandiwara itu dusta. Bisa jadi memberi pengaruh bagi orang yang hadir dan menyaksikan atau memikat perhatian mereka atau bahkan membuat mereka tertawa. Itu bagian dari cerita-cerita khayalan. Sungguh telah ada ancaman dari Rasulullah bagi orang yang berdusta untuk menertawakan manusia dengan ancaman yang keras. Yakni dari Muawiyah bin Haidah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah bersabda,
“Artinya : Celaka bagi orang-orang yang berbicara (mengabarkan) sedangkan dia dusta (dalam pembicaraannya) supaya suatu kaum tertawa maka celakalah bagi dia, celakalah bagi dia”.[Hadits Hasan, dikeluarkan oleh Hakim (I/46), Ahmad (V/3-5) dan At-Tirmidzi (2315)]
Mengiringi hadits ini Syaikh Islam berkata,'Dan sungguh Ibnu Mas'ud berkata : “Sesungguhnya dusta itu tidak benar baik sungguh-sungguh maupun bercanda”
Adapun apabila dusta itu menimbulkan permusuhan atas kaum muslimin dan membahayakan atas dien tentu lebih keras lagi larangannya. Bagaimanapun pelakunya yang menertawakan suatu kaum dengan kedustaan berhak mendapat hukuman secara syar'i yang bisa menghalangi dari perbuatannya itu.[Majmu Fatawa (32/256)]
Tentang cerita-cerita, sungguh ulama' salaf membenci cerita-cerita dan majelis-majelis cerita. Mereka memperingatkan segala peringatan dan memerangi para narator (pencerita) dengan berbagai sarana. Dari kitab Al-Mudzakir wa At-Tadzkin wa Adz-Dzikr karya Ibnu Abi Ashim, tahqiq Khlaid Al-Ridadi (hal. 26) . Ibnu Ashim telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih, bahwa Ali Radhiyallahu ;anhu melihat seseorang bercerita, maka dia berkata, Apakah engkau tahu tentang naskh (ayat yang menghapus) dan mansukh(yang dihapus)? Maka dia (pencerita itu) menjawab,Tidak. Ali berkata,Binasa engkau dan engkau telah membinasakan mereka.[ Al-Mudzakir wa At-Tadzkir hal. 82]
Imam Malik berkata, Sungguh saya benci cerita-cerita di masjid. Saya memandang berbahaya ikut bermajelis dengan mereka. Sesungguhnya cerita-cerita itu bid'ah.
Dari Salim berkata, “Bahwa Ibnu Umar bertemu dengan orang yang keluar dari masjid, maka dia berkata , ‘Tidak ada factor yang menyebabkan aku keluar (dari masjid) kecuali suara narrator kalian ini”. Imam Ahmad berkata,Manusia yang paling dusta adalah para narator dan orang yang paling banyak bertanya (dengan pertanyaan yang tidak ada faedahnya). Kemudian ditanyakan padanya (Imam Ahmad),Apakah Anda menghadiri majelis mereka ? Dia menjawab, Tidak.[Dinukil dari kitab Al-Bida wa Al-Hawadits karya At-Turtusyi, hal 109-112]
[4]. Salah satu nama sandiwara yaitu : Al-Muhakkah, yakni menirukan seseorang dalam gerakan-gerakannya. Telah datang hadits shahih yang mencela orang yang menirukan gerakan seseorang, dan larangan dari yang demikian itu, dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda, 'Sungguh saya tidak suka menirukan seseorang dan sungguh bagi saya seperti ini dan seperti ini'. Shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad (6/136-206), At-Tirmidzi( 2503).
[5] Hadits yang melarang menyerupai orang-orang musyrik dan kafir telah tersebar, diantaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 'Selisihilah orang-orang Yahudi dan Nashara..'[Taqrib Ibnu Hibban (2186)], 'Berbedalah dengan orang-orang musyrik...' [Muslim(259) ], 'Berbedalah dengan orang-orang Majusi..' [Muslim(260) ]
[6]. Telah terbit sebuah kitab dengan judul Al-Hujaj Al-Qawiyyah ‘Ala Anna Wasa’ilah Da’wah Taufiqiyyah karya Syaikh Abdussallam bin Barjas bin Abdulkarim. Sebuah kitab yang bagus pembahasannya, kami nasehatkan supaya membaca kitab tersebt.
[7]. Kemudian sungguh malaikat itu tidak menirukan perkataan seseorang yang diserupai bentuknya, dan tidak berjalan seperti jalannya atau gerakan-gerakan lain yang dilakukan orang yang diseruapinya.
Pertanyaan.
Syaikh DR Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Apa hukum sandiwara Islami, dan nasyid-nasyid yang dinamakn nasyid Islami, yang hal ini dilakukan oleh sebagian pemuda di pusat-pusat hiburan selama musim panas ?
Jawaban.
Sandiwara [1], saya katakan tidak boleh karena.
Pertama:
Di dalamnya melalaikan orang yang hadir [2] sebab mereka memperhatikan gerakan-gerakan pemain sandiwara dan mereka senang (tertawa) [3]. Sandiwara itu biasanya dimaksudkan untuk hiburan, sehingga melalaikan orang yang menyaksikan. Ini dari satu sisi.
Kedua:
Individu-individu yang ditiru, kadang-kadang berasal dari tokoh Islam, seperti sahabat. Hal ini dianggap sebagai sikap meremehkan mereka[4] , baik si pemain merasa atau tidak. Contoh: anak kecil atau seseorang yang sangat tidak pantas, menirukan ulama atau sahabat. Ini tidak boleh. Kalau ada seseorang datang menirukan kamu, berjalan seperti jalanmu, apakah engkau ridha dengan hal ini? Bukankah sikap ini digolongkan sebagai sikap merendahkan terhadap kamu? Walaupun orang yang meniru tersebut bermaksud baik menurut sangkaannya. Tetapi setiap individu tidak akan rela terhadap seseorang yang merendahkan dirinya.
Ketiga:
Yang ini sangat berbahaya, sebagian mereka menirukan pribadi kafir seperti Abu Jahal atau Fir'aun dan selain mereka. Dia berbicara dengan pembicaraan yang kufur yang menurut dugaannya dia hendak membantah kekufurannya, atau ingin menjelaskan bagaimana keadaan jahiliyah. Ini adalah tasyabuh (meniru). Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam melarang tasyabuh dengan orang-orang musyrik dan kufur [5] baik meniru (menyerupai) kepribadian maupun perkataannya. Dakwah dengan cara ini dilarang karena tidak ada petunjuk Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam serta bukan dari salafu ash shalih maupun petunjuk kaum muslimin. Model-model sandiwara ini tidak dikenal kecuali dari luar Islam. Masuk kepada kita dengan nama dakwah Islam, dan dianggap sebagai sarana-sarana dakwah. Ini tidak benar karena sarana dakwah adalah tauqifiyah (ittiba'). Cukup dengan yang dibawa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak butuh jalan seperti ini.[6]. Bahwasanya dakwah akan tetap menang dalam kurun waktu yang berbeda-beda. Tanpa adanya model-model sandiwara ini. Tatkala cara ini (sandiwara) datang tidaklah menampakkan kebaikan kepada manusia sedikitpun, dan tidak bisa mempengaruhinya. Hal itu menunjukkan bahwa cara ini (sandiwara) adalah perkara negatif dan tidak ada faedahnya sedikitpun. Bahkan di dalamnya terdapat hal-hal yang membahayakan.
Lalu jika ada orang yang berkata,'Sesungguhnya Malaikat itu menyerupai bentuk anak Adam.
Kami jawab, 'Malaikat-malaikat itu datang dalam bentuk anak Adam, karena manusia tidak mampu melihat dalam bentuknya yang asli. Ini merupakan kebaikan bagi manusia. Sebab jika malaikat datang dengan bentuk mereka yang sebenarnya, maka manusia tidak akan mampu berbicara dengan mereka dan tidak bisa melihat kepada mereka.[7] Para malaikat tatkala menyerupai bentuk manusia tidak bermaksud bermain sandiwara sebagaimana yang mereka inginkan. Malaikat itu menyerupai manusia dalam rangka memperbaiki. Karena malaikat mempunyai bentuk sendiri yang berbeda dari manusia. Adapun manusia maka bagaimana bentuk seseorang itu berubah kepada bentuk manusia yang lain. Apa yang mendorong kepada perubahan ini?
[Disalin dari kitab Al-Ajwibatu Al-Mufidah An-As’illah Al-Manahij Al-Jadidah, Edisi Indonesia Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, Pengumpul Risalah Abu Abdillah Jamal bin Farihah Al-Haritsi, Penerbit Yayasan Al-Madinah, Penerjemah Muhaimin]
__________
Foote Note
[1]. Syaikh Bakar Abu Zaid berkata dalam kitabnya At-Tamtsil,' Keberadaan sandiwara awalnya adalah bentuk peribadahan non-Islam. Sebagian ahlu ilmi menguatkan, bahwa inti sandiwara itu adalah bagian dari syiar-syiar peribadahan penyembah berhala di Yunani.(Hal 18).
Syaikh Al-Islam berkata dalam kitabnya Iqtidha Sirath Al-Mustaqim (191/ cet. Darul Hadits) tentang apa yang dikerjakan kaum Nashara pada hari raya mereka yang disebut ’Hari rayanya orang-orang yang berkepala udang” (id asy-Sya’anin): ”Mereka keluar pada hari raya dengan membawa daun zaitun dan sejenisnya, dan mereka menyangka sikapdemikian itu menyerupai apa yang ada pada Al-Masih ’Alaiahis Sallam. Hal ini telah dinukil oleh Syaikh Bakar Abu Zaid dalam At-Tamtsil. Syaikh Bakar mengisyaratkan tentang hal itu dalam kitabnya hal. 27-28 : ”Engkau telah mengetahui bahwa sandiwara itu tak ada hubungannya dengan sejarah kaum muslimin pada generasi yang pertama(utama) . Kedatangannya tak disangka-sangka pada masa sedikitnya orang yang berilmu, yakni pada abad 14H. Kemudian disambut dengan mendirikan rumah-rumah hiburan dan gedung-gedung sandiwara, serta merta berpindahlah dari tempat-tempat peribadahan kaum Nashara kepada sekelompok pelaku sandiwara Islami di sekolah-sekolah daripada sebagian jamaah Islam.
[Saya (Abu Abdillah) berkata : Contohnya Ikhwanul Muslimin”]
Apabila engkau memaklumi hal ini, maka ketahuilah bahwa kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip Islam yang mengangkat ahlinya kepada derajat mulia dan sempurna tentu menuntut penolakan dengan cara itu. Sebagaimana diketahui, bahwa suatu amal mungkin termasuk sebagai ibadah, atau bisa jadi termasuk sebagai adat. Maka asal ibadah, tidaklah disyariatkan kecuali apa yang disyariatkan oleh Allah dan asal adat adalah tidak dilarang kecuali apa yang telah Allah larang. Oleh karena itu sandiwara Islami itu tidak boleh diadakan sebagai jalan ibadah, atau pun sebagai bagian dari kebiasaan atau adat yang mengandung unsur permainan dan hiburan.
Sandiwara Islami tidak ditetapkan dalam syariat, dia jalan yang baru. Sebagian dari keseluruhan ajaran Islam adalah apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam ,'Barangsiapa yang membikin perkara-perkara baru dalam urusan kami(Islam), yang perkara itu buka dari Islam maka tertolak'. Karena itu, apa yang telah dilihat pada beberapa sekolahan atau kampus-kampus, yakni adanya permainan sandiwara Islami maka sesungguhnya itu adalah sandiwara bid'ah, karena telah diketahui asalnya. amalan tersebut bagi kaum muslimin adalah perkara yang keluar dari daerah yang ditentukan berdasarkan dalil syar'i.
Karena amalan tersebut merupakan peribadahan penyembah berhala dari Yunani dan ahlu bid'ah Nashara, maka tak ada dasarnya dalam Islam secara mutlak. Jadi amalan itu adalah perkara baru dalam Islam dan setiap perkara baru dalam Islam adalah bid'ah yang menyerupai syariah. Nama yang pas untuk istilah itu berdasar syariat Islam adalah 'Sandiwara Bid'ah'.
Apabila sandiwara ini dimasukkan sebagai adat, maka hal itu menyerupai musuh-musuh Allah (kafir). Sedangkan kita telah dilarang menyerupai mereka. Sementara perkara itu tidak dikenal kecuali dari mereka.
Saya (Abu Abdillah) berkata, ”Sesungguhnya ; ’Sandiwara Islami’, sebagaimana yang mereka namakan –hanya terdapat di pusat hiburan selama musim panas dan sekolah-skolah, dianggap sebagai salah satu metode dakwan dan cara mempengaruhi para pemuda. Ini merupakan akal-akalan mereka, yang secara syara tertolak. Padahal cara dan metode dakwah kepada Allah tauqifiyah (ittiba), maka tidak ada hak bagi seseorang untuk membikin sesuatu (untuk peribadahan) dari dirinya. Saya tidak akan membicarakan masalah sarana dakwah secara panjang lebar.
Jika ada orang yang berkata,'Sesungguhn ya sarana-sarana berdakwah merupakan bagian dari mashalihul Mursalah'. Kami jawab,'Apakah syariah meremehkan segala kebaikan bagi hamba-hambanya?
Jawabannya terdapat dalam keterangan Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, sebagai berikut, 'Secara singkat bahwa syariah tidak meremehkan kebaikan (maslahah) sama sekali, bahkan Allah Ta'ala telah menyempurnakan dien nikmatNya bagi kita. Jadi tidak ada yang mendekatkan diri ke surga kecuali kita telah diperintahkan beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam untuk mengerjakannya. Beliau telah meninggalkan kita di atas lembaran yang putih bersih. Malamnya seprti siangnya, tidak menyimpang daripadanya melainkan orang yang binasa.[Dinukil dari kitab : Hujaju Al-Qawiyyah Ala Anna Wasa’ila ad-Da’wah Tauqifiyah karya Syaikh Abdussallam bin Barjas hal. 40]
Saya (Abu Abdillah) berkata, 'Apabila sejumlah besar dari berbagai kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan bertaubat kepada al-haq dengan jalan yang syar'i dan memang harus demikian. Maka mengapa seorang da'i mencari jalan yang tidak terdapat di dalam syara' ? Lagipula bahwa sesungguhnya apa yang terdapat dalam syara' sungguh telah mencukupi untuk memperoleh tujuan dakwah kepada Allah. Yakni menjadikan ahlu maksiat bertaubat dan orang-orang yang tersesat mendapat petunjuk. Hendaklah para da'i melapangkan dirinya tatkala berdakwah kepada Allah dengan sarana yang para sahabat melapangkan diri mereka di atasnya. Sesungguhnya mereka kembali menuju kepada ilmu. Ibnu Mas'ud berkata,'Sesungguhn ya kalian akan menciptakan perkara yang baru dan akan diciptakan perkara baru untuk kalian, Maka, apabila kalian melihat perkara yang baru, wajib atas kalian berpegang dengan perkara yang pertama (Rasulullah dan para sahabat)'. Ibnu Mas'ud berkata pula,'Hati-hati kalian terhadap bid'ah, hati-hati kalian terhadap berlebih-lebihan, hati-hati kalian terhadap berdalam-dalaman dan wajib kalian berpegang teguh dengan generasi yang dahulu'.[ Dinukil dari kitab : Hujaju Al-Qawiyyah Ala Anna Wasa’ila ad-Da’wah Tauqifiyah karya Syaikh Abdussallam bin Barjas hal. 43]
Syaikh Abdussalam berkata,'Sesungguhn ya menentukan kebaikan dalam suatu perkara adalah sulit sekali. Kadang-kadang seorang pengamat menyengka bahwa ini adalah maslahah, padahal ini, sesungguhnya yang berkuasa menentukan kemaslahatan adalah ahlu ilmi. Merekalah yang dipenuhi keadilan dan bashirah, yang senantiasa mewujudkan hukum-hukum syariah serta kebaikan-kebaikan. Oleh karena itu suatu masalah butuh sikap hati-hati yang besar dan sangat waspada dari penguasaan hawa nafsu jika menghendaki sesuatu yang baik. Hawa nafsu sering menghiasi sesuatu yang rusak menjadi tampak baik, sehingga banyak orang tertipu. Padahal bahayanya lebih besar daripada manfaatnya. Lalu bagaimana para muqallid(orang yang taklid) itu bisa dikuasai dengan persangkaan kemudian menentukan bahwa ini adalah maslahah ? Bukankah ini merupakan sikap lancang terhadap dien dan sikap nakal terhadap hukum syar'i dengan tanpa keyakinan ? (hal 45)
Dia Abdussalam menukil juga dari Syaikh Hamud bin Abdullah At-Tuwajiri rahimaullah, katanya : Sesungguhnya memasukkan sandiwara dalam berdakwah kepada Allah Ta’ala bukanlah dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan dari sunnah Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyin. Melainkan termasuk perkara baru pada zaman kita. Dan sungguh Rasulullah telah memperingatkan dari perkara-perkara yang baru, memerintahkan untuk menolaknya, serta mengabarkannya bahwa perkara baru itu adalah buruk dan sesat” (hal. 45)
[2]. Di dalamnya mengandung unsur menyia-nyiakan waktu. Orang Islam akan dimintai pertanggungjawabann ya terhadap waktunya. Dia dituntut untuk memelihara dan mengambil faedah dari waktunya, untuk mengamalkan apa-apa yang diridhai oleh Allah Ta'ala, sehingga manfaatnya kembali kepadanya baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana hadits Abu Barzah Al-Aslamy, dia berkata,'Telah bersabda Rasulullah,
”Artinya : Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan. tentang hartanya darimana dia dapatkan, dan untuk apa dia infakkan. tentang badannya untuk apa dia kerahkan. [Dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi 2417 dan dia menshahihkannya]
[3]. Umumnya sandiwara itu dusta. Bisa jadi memberi pengaruh bagi orang yang hadir dan menyaksikan atau memikat perhatian mereka atau bahkan membuat mereka tertawa. Itu bagian dari cerita-cerita khayalan. Sungguh telah ada ancaman dari Rasulullah bagi orang yang berdusta untuk menertawakan manusia dengan ancaman yang keras. Yakni dari Muawiyah bin Haidah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah bersabda,
“Artinya : Celaka bagi orang-orang yang berbicara (mengabarkan) sedangkan dia dusta (dalam pembicaraannya) supaya suatu kaum tertawa maka celakalah bagi dia, celakalah bagi dia”.[Hadits Hasan, dikeluarkan oleh Hakim (I/46), Ahmad (V/3-5) dan At-Tirmidzi (2315)]
Mengiringi hadits ini Syaikh Islam berkata,'Dan sungguh Ibnu Mas'ud berkata : “Sesungguhnya dusta itu tidak benar baik sungguh-sungguh maupun bercanda”
Adapun apabila dusta itu menimbulkan permusuhan atas kaum muslimin dan membahayakan atas dien tentu lebih keras lagi larangannya. Bagaimanapun pelakunya yang menertawakan suatu kaum dengan kedustaan berhak mendapat hukuman secara syar'i yang bisa menghalangi dari perbuatannya itu.[Majmu Fatawa (32/256)]
Tentang cerita-cerita, sungguh ulama' salaf membenci cerita-cerita dan majelis-majelis cerita. Mereka memperingatkan segala peringatan dan memerangi para narator (pencerita) dengan berbagai sarana. Dari kitab Al-Mudzakir wa At-Tadzkin wa Adz-Dzikr karya Ibnu Abi Ashim, tahqiq Khlaid Al-Ridadi (hal. 26) . Ibnu Ashim telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih, bahwa Ali Radhiyallahu ;anhu melihat seseorang bercerita, maka dia berkata, Apakah engkau tahu tentang naskh (ayat yang menghapus) dan mansukh(yang dihapus)? Maka dia (pencerita itu) menjawab,Tidak. Ali berkata,Binasa engkau dan engkau telah membinasakan mereka.[ Al-Mudzakir wa At-Tadzkir hal. 82]
Imam Malik berkata, Sungguh saya benci cerita-cerita di masjid. Saya memandang berbahaya ikut bermajelis dengan mereka. Sesungguhnya cerita-cerita itu bid'ah.
Dari Salim berkata, “Bahwa Ibnu Umar bertemu dengan orang yang keluar dari masjid, maka dia berkata , ‘Tidak ada factor yang menyebabkan aku keluar (dari masjid) kecuali suara narrator kalian ini”. Imam Ahmad berkata,Manusia yang paling dusta adalah para narator dan orang yang paling banyak bertanya (dengan pertanyaan yang tidak ada faedahnya). Kemudian ditanyakan padanya (Imam Ahmad),Apakah Anda menghadiri majelis mereka ? Dia menjawab, Tidak.[Dinukil dari kitab Al-Bida wa Al-Hawadits karya At-Turtusyi, hal 109-112]
[4]. Salah satu nama sandiwara yaitu : Al-Muhakkah, yakni menirukan seseorang dalam gerakan-gerakannya. Telah datang hadits shahih yang mencela orang yang menirukan gerakan seseorang, dan larangan dari yang demikian itu, dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda, 'Sungguh saya tidak suka menirukan seseorang dan sungguh bagi saya seperti ini dan seperti ini'. Shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad (6/136-206), At-Tirmidzi( 2503).
[5] Hadits yang melarang menyerupai orang-orang musyrik dan kafir telah tersebar, diantaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 'Selisihilah orang-orang Yahudi dan Nashara..'[Taqrib Ibnu Hibban (2186)], 'Berbedalah dengan orang-orang musyrik...' [Muslim(259) ], 'Berbedalah dengan orang-orang Majusi..' [Muslim(260) ]
[6]. Telah terbit sebuah kitab dengan judul Al-Hujaj Al-Qawiyyah ‘Ala Anna Wasa’ilah Da’wah Taufiqiyyah karya Syaikh Abdussallam bin Barjas bin Abdulkarim. Sebuah kitab yang bagus pembahasannya, kami nasehatkan supaya membaca kitab tersebt.
[7]. Kemudian sungguh malaikat itu tidak menirukan perkataan seseorang yang diserupai bentuknya, dan tidak berjalan seperti jalannya atau gerakan-gerakan lain yang dilakukan orang yang diseruapinya.
Langganan:
Postingan (Atom)
